sekitarmalangraya – Stadsklok Malang kembali mendapat perhatian dalam pengembangan wisata sejarah Kota Malang.
Bangunan jam kota yang berada di kawasan Kayutangan ini tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga mulai diarahkan menjadi salah satu daya tarik wisata baru.
Rencana tersebut mengemuka saat Pemerintah Kota Malang membuka Pasar Legenda Stadsklok Kajoetangan (PALESKA) 2026 pada September 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Pemkot Malang menyampaikan gagasan untuk mengarahkan pergerakan wisatawan dari koridor utama Kayutangan Heritage menuju kawasan Stadsklok.
Stadsklok Malang Berusia Lebih dari Satu Abad
Stadsklok Malang merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Malang.
Dalam daftar penetapan cagar budaya tahun 2021 milik Pemerintah Kota Malang, tercantum SK Stadsklok Wingkel Complex Lux.
Catatan sejarah yang dihimpun TIMES Indonesia menyebut Stadsklok dibangun sekitar 1925–1926. Sementara sumber Kelurahan Oro-Oro Dowo menyebut bangunan tersebut dirancang pada 1926 dan mulai digunakan pada 1927.
Pada masa itu, Stadsklok berfungsi sebagai penunjuk waktu sekaligus bagian dari fasilitas kota. Sumber tersebut mengaitkan pembangunannya dengan periode pemerintahan Wali Kota H.I. Bussemaker.
Pada masa awal penggunaannya, mekanisme Stadsklok menggunakan tenaga per yang perlu diisi secara berkala oleh petugas.
Sekitar 1950–1960, mekanismenya kemudian berubah menggunakan baterai untuk menyesuaikan perkembangan teknologi.
Pada masa tersebut, Stadsklok memiliki fungsi praktis sebagai penunjuk waktu bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Karena itu, Stadsklok tidak hanya menarik dari bentuk fisiknya. Bangunan tersebut juga dapat menjadi bagian dari cerita mengenai bagaimana kehidupan perkotaan Malang berkembang pada masa lalu.
Baca Juga : Kampung Klasik Malang, Festival Warga yang Menghidupkan Budaya Jawa Timur
Stadsklok Malang Berada di Kawasan Kayutangan Heritage
Stadsklok Malang berada di Jalan Basuki Rahmat, tepatnya di depan kantor PLN Kayutangan Heritage. Lokasinya membuat bangunan tersebut berada dalam lingkungan yang memiliki banyak jejak sejarah Kota Malang.
Pada 2023, Pemerintah Kota Malang menjelaskan bahwa Stadsklok sempat menjadi bagian dari pembahasan ketika dilakukan penataan ruang terbuka hijau di sekitar Kayutangan.
Struktur jam tersebut akhirnya tidak dipindahkan karena termasuk cagar budaya. Desain taman kemudian disesuaikan dengan posisi Stadsklok.
Hal ini membuat Stadsklok memiliki hubungan dengan ruang kota di sekitarnya. Pengunjung tidak hanya dapat melihat sebuah bangunan lama, tetapi juga memahami mengapa lokasi tersebut pernah memiliki arti penting bagi mobilitas masyarakat.
Sejarah Stadsklok Mulai Dikemas sebagai Daya Tarik Wisata
Rencana terbaru Pemerintah Kota Malang menunjukkan bahwa Stadsklok tidak hanya akan dipertahankan sebagai bangunan bersejarah. Pemkot ingin cerita di baliknya dikemas agar lebih mudah dipahami masyarakat dan wisatawan.
Saat membuka PALESKA 2026 pada 14 September 2026, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan rencana untuk memecah konsentrasi kunjungan wisatawan yang selama ini berada di koridor utama Kayutangan Heritage agar turut mengalir menuju kawasan Stadsklok.
Untuk mendukung rencana tersebut, Pemkot meminta Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dalam menyusun storytelling sejarah Stadsklok.
Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata sejarah tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan.
Narasi mengenai sejarah, fungsi, dan posisi sebuah peninggalan juga diperlukan agar pengunjung memahami alasan bangunan tersebut penting untuk dipertahankan.
Dengan adanya storytelling, pengalaman melihat Stadsklok dapat diarahkan menjadi pengalaman mengenal sejarah.
Pengunjung nantinya tidak hanya datang untuk melihat jam kota, tetapi juga memperoleh konteks mengenai perkembangan Kota Malang dan kawasan Kayutangan.
PALESKA Ikut Menghidupkan Kawasan Stadsklok
Upaya menghidupkan cerita Stadsklok juga terlihat melalui Pasar Legenda Stadsklok Kajoetangan atau PALESKA.
Pada 2026, kegiatan tersebut memasuki gelaran kedua dan dijadwalkan berlangsung selama satu pekan di area Hotel Trio Indah 2 Malang.
Pemerintah Kota Malang menyebut PALESKA 2026 diikuti 40 pelaku UMKM se-Malang Raya. Event tersebut menjadi ruang yang mempertemukan unsur sejarah, budaya, kegiatan ekonomi, dan produk masyarakat lokal.
Kehadiran UMKM memberikan dimensi lain dalam pengembangan kawasan. Stadsklok tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang dilihat, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat dan ekonomi kreatif.
PALESKA juga bukan kegiatan yang baru muncul pada 2026. Pada September 2025, Pasar Legenda Stadsklok Kajoetangan telah diselenggarakan di Hotel Trio Indah 2.
Kegiatan tersebut membawa nama Stadsklok sebagai bagian dari agenda yang bertujuan menghidupkan kawasan Kayutangan dan mendukung aktivitas ekonomi lokal.
Dengan adanya kesinambungan kegiatan, Stadsklok memiliki ruang untuk semakin dikenal masyarakat. Namun, pengembangan tersebut tetap perlu berjalan bersama upaya pelestarian karena statusnya sebagai cagar budaya.
Baca Juga : Ibu Kota Jawa Timur Adalah Surabaya, Begini Sejarah dan Perannya
Stadsklok Malang Diproyeksikan Jadi Ikon Wisata Sejarah
Stadsklok Malang saat ini berada pada tahap pengembangan sebagai potensi daya tarik wisata, bukan destinasi baru yang sudah sepenuhnya terbentuk.
Pemerintah Kota Malang masih mendorong sejumlah langkah agar nilai sejarahnya dapat diterjemahkan menjadi pengalaman wisata.
Salah satu gagasan yang disampaikan Pemkot adalah membuat suvenir dengan bentuk atau identitas Stadsklok.
Pemkot juga menyoroti inovasi komunitas kreatif Malang yang sebelumnya membuat replika Stadsklok menggunakan bahan daur ulang sampah plastik.
Pengembangan suvenir dapat menjadi salah satu cara memperluas identitas Stadsklok di luar lokasi fisiknya.
Ikon sejarah tidak hanya dikenali ketika wisatawan berada di Kayutangan, tetapi juga dapat diperkenalkan melalui produk kreatif yang berkaitan dengannya.
Selain itu, Pemkot berharap PALESKA dapat terus ditingkatkan kualitas penyelenggaraannya sehingga nantinya dapat diusulkan masuk Kalender Wisata Kota Malang.
Rencana tersebut membuat Stadsklok berpeluang memainkan peran lebih besar dalam wisata sejarah Kota Malang.
Namun, pengembangannya tetap membutuhkan keseimbangan antara aktivitas wisata, ekonomi kreatif, storytelling, dan pelestarian cagar budaya.
Jika narasi sejarahnya kuat dan pengembangannya memperhatikan status cagar budaya, Stadsklok dapat menjadi salah satu pintu untuk mengenal Kayutangan dan perjalanan Kota Malang. Bukan sekadar jam kota yang berdiri di tepi jalan, melainkan bagian dari cerita perkembangan sebuah kota.









Leave a Comment