sekitarmalangraya – Koding dan AI mulai dikenalkan dalam pendidikan dasar di Indonesia, tetapi penerapannya tidak berarti setiap siswa SD harus langsung menjadi programmer atau ahli teknologi.
Kemendikdasmen menempatkan Koding dan AI (Artificial Intelligence) sebagai mata pelajaran pilihan yang dapat disediakan satuan pendidikan sesuai sumber daya dan dapat dipilih murid sesuai minat.
Karena itu, yang perlu disiapkan bukan hanya perangkat digital, tetapi juga cara berpikir, kemampuan memecahkan masalah, dan sikap bertanggung jawab terhadap teknologi.
Perubahan ini membuat orang tua dan siswa perlu memahami seperti apa pembelajarannya. Materi dirancang bertahap sesuai jenjang dan perkembangan peserta didik, mulai dari logika, instruksi, algoritma sederhana, literasi AI, keamanan data, hingga etika teknologi.
Koding dan AI Mulai Dikenalkan di Jenjang Sekolah Dasar
Koding dan AI mendapat ruang dalam kurikulum melalui penambahan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial.
Sistem Informasi Kurikulum Nasional Kemendikdasmen menjelaskan bahwa mata pelajaran ini tidak diwajibkan bagi seluruh satuan pendidikan.
Sekolah dapat menyediakannya sesuai sumber daya, sedangkan murid dapat memilih berdasarkan minat. Materinya juga dapat diintegrasikan ke mata pelajaran lain, kokurikuler, atau ekstrakurikuler.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran ini bukan sekadar mengejar kemampuan teknis. Panduan resmi Kemendikdasmen menempatkan koding dan KA sebagai sarana membangun kemampuan memecahkan masalah dan menghadapi perkembangan teknologi.
Untuk SD, pendekatannya disesuaikan dengan tahap perkembangan anak sehingga konsep tidak harus dimulai dari pemrograman rumit.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu membayangkan siswa SD harus menulis kode seperti programmer profesional. Pembelajaran dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Belajar dari Rumah Saat Sekolah Tidak Aman, Apakah Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Jadi Solusi?
Apa yang Dipelajari Siswa SD dari Koding?
Dalam pembelajaran Koding dan AI, koding untuk siswa SD berkaitan dengan cara menyusun solusi secara terstruktur.
Kompetensi jenjang SD mencakup kemampuan menghasilkan solusi terhadap masalah sehari-hari menggunakan alat bantu sederhana, serta menyusun langkah sistematis dan logis dengan perintah atau algoritma dasar.
Artinya, siswa dapat dilatih memahami bahwa sebuah persoalan bisa dipecah menjadi beberapa langkah.
Ketika diminta menyusun instruksi untuk melakukan kegiatan tertentu, misalnya, siswa belajar menentukan urutan tindakan agar tujuan tercapai. Pola ini membantu anak memahami hubungan antara masalah, instruksi, proses, dan hasil.
Panduan juga membuka ruang untuk aktivitas tanpa perangkat digital. Siswa dapat mengenal pola, urutan, aturan, dan logika melalui aktivitas yang sesuai usia, lalu menghubungkannya dengan teknologi.
Buku resmi Koding dan AI untuk SD/MI Kelas V juga memperkenalkan konsep teknologi sekaligus penggunaannya untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa Tidak Hanya Belajar Menggunakan AI
Bagian penting dari pembelajaran Koding dan AI adalah literasi, bukan sekadar kemampuan memakai aplikasi.
Buku saku Kemendikdasmen tentang kecerdasan artifisial menjelaskan bahwa materi tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadikan murid sebagai ahli teknologi sejak dini.
Tujuannya adalah membangun pemahaman dasar yang proporsional sesuai tahap perkembangan dan jenjang pendidikan.
Dalam buku Kelas V, siswa diperkenalkan pada konsep kecerdasan artifisial, perbedaan kemampuan manusia dan komputer dalam mengenali objek, perbedaan mesin cerdas dan noncerdas, serta hubungan data dengan pembelajaran mesin. Materi tersebut ditempatkan dalam kerangka literasi dan etika.
Hal ini penting karena siswa perlu memahami bahwa keluaran AI tidak otomatis selalu benar. Panduan pembelajaran juga memuat persoalan seperti bias, ketergantungan berlebihan, halusinasi, dan hak cipta. Pemahaman mengenai data dan kualitas data juga menjadi bagian dari kompetensi yang dikenalkan.
Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk tidak langsung menerima informasi dari teknologi. Kemampuan bertanya, memeriksa, membandingkan, dan memahami batas penggunaan AI tetap menjadi bagian penting dari proses belajar.
Peran Guru Tetap Penting dalam Pembelajaran Koding dan AI
Kehadiran teknologi tidak menghilangkan peran guru. Guru tetap diperlukan untuk mengubah konsep yang abstrak menjadi pengalaman belajar yang sesuai usia siswa.
Panduan Guru Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk SD/MI Kelas V disusun sebagai pendamping pembelajaran di kelas. Pemerintah juga menyiapkan pelatihan KKA berbasis jenjang bagi guru pendidikan dasar.
Pada Februari 2026, Direktorat Guru Pendidikan Dasar menyebut persiapan petunjuk teknis pelatihan KKA sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan pelatihan tahun tersebut.
Guru perlu memahami bukan hanya aspek teknis, tetapi juga cara memilih aktivitas, mengarahkan diskusi, membangun penalaran, dan menanamkan etika penggunaan teknologi.
Kemendikdasmen pada 2026 juga memperluas akses pelatihan Koding dan KA bagi guru melalui program pengembangan kompetensi.
Dengan pendampingan tersebut, teknologi dapat ditempatkan sebagai alat belajar, bukan pengganti guru atau proses berpikir siswa.
Baca Juga : Prabowo Bentuk Tim Khusus Pendidikan Gratis, Pratikno Jadi Ketua
Apa yang Perlu Disiapkan Sekolah dan Siswa?
Persiapan pertama adalah memahami bahwa Koding dan AI merupakan pembelajaran bertahap. Siswa tidak perlu dibebani target menjadi programmer.
Yang lebih penting adalah kesiapan belajar secara logis, mencoba solusi, menemukan kesalahan, dan memperbaikinya.
Sekolah perlu memperhatikan kesiapan guru, sumber belajar, perangkat, serta metode yang sesuai. Panduan resmi menunjukkan pembelajaran dapat menggunakan aktivitas dengan maupun tanpa perangkat digital, sehingga kesiapan sekolah tidak semata-mata diukur dari jumlah komputer yang tersedia.
Dari sisi siswa, kemampuan yang perlu dibangun mencakup rasa ingin tahu, ketelitian mengikuti instruksi, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian mengevaluasi jawaban.
Ketika berhadapan dengan AI, siswa juga perlu memahami keamanan data, hak cipta, potensi bias, serta risiko ketergantungan teknologi.
Pada akhirnya, Koding dan AI di SD sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pembentukan kemampuan berpikir dan literasi teknologi.
Siswa tidak hanya diajak menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara kerja sederhananya, mempertanyakan hasilnya, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Dengan dasar tersebut, pembelajaran Koding dan AI dapat berkembang mengikuti usia dan kebutuhan siswa tanpa menghilangkan kemampuan berpikir mandiri.









Leave a Comment