Malang Dikenal Dingin, Tapi Kok AC Dimana Mana?

Bima Yoga

September 14, 2026

4
Min Read
Malang Dikenal Dingin, Tapi Kok AC Dimana Mana?
Kota Malang selama ini punya reputasi sebagai kota sejuk, jauh dari kesan gerah seperti kota-kota besar lain di Jawa Timur.

sekitarmalangraya – Kota Malang selama ini punya reputasi sebagai kota sejuk, jauh dari kesan gerah seperti kota-kota besar lain di Jawa Timur.

Tapi coba perhatikan, hampir di setiap kafe, mal, sampai rumah-rumah warga, AC seolah jadi barang wajib yang nggak boleh absen. Aneh, kan? Kota yang katanya dingin, tapi orang-orangnya tetap sibuk nyalain pendingin ruangan.

Sebenarnya Seberapa Dingin Sih Malang Itu

Data BMKG menunjukkan Malang memang memiliki suhu yang relatif sejuk, terutama pada malam hingga pagi hari.

Dalam prakiraan BMKG untuk Kota Malang, suhu dapat berada di kisaran 17–28 derajat Celsius, dengan suhu terendah terjadi pada malam hingga pagi dan suhu meningkat pada siang hari.

Kondisi tersebut juga sejalan dengan penjelasan Stasiun Klimatologi Jawa Timur bahwa wilayah Malang Raya dan Batu cenderung merasakan suhu yang lebih dingin pada malam hingga pagi hari. Namun, ketika memasuki siang hari, suhu dapat meningkat sehingga udara tidak selalu terasa dingin sepanjang hari.

Data BMKG tersebut memang menunjukkan bahwa Malang sebagai kota yang dingin memiliki dasar kondisi meteorologis, tetapi suhu yang relatif rendah bukan berarti seluruh aktivitas di dalam ruangan selalu memiliki kondisi udara yang sama.

Faktor seperti waktu, kelembapan, paparan matahari, desain bangunan, dan aktivitas penghuni tetap dapat memengaruhi kenyamanan termal.

Kota Makin Padat, Suhu Ikut Naik

Menariknya, penelitian Hamdani dan Susanti pada 2017 soal perubahan penggunaan lahan di Kota Malang menemukan bahwa kepadatan penduduk berkontribusi sekitar 49,6 persen terhadap perubahan suhu kota ini.

Studi tersebut mencatat suhu rata-rata Malang naik dari 23,5 derajat Celsius pada 1991 menjadi 24,5 derajat Celsius pada 2015, alias naik sekitar satu derajat dalam kurun 24 tahun.

Angka satu derajat mungkin terdengar kecil, tapi dalam skala kota, itu cukup untuk mengubah rasa “adem” jadi “lumayan gerah”, apalagi di kawasan-kawasan yang padat bangunan dan minim pohon.

Semakin banyak lahan hijau berubah jadi gedung dan aspal, semakin kerasa juga efek panas yang menumpuk di tengah kota.

Baca Juga: Perlukah Indonesia Beralih ke Kendaraan Listrik demi Transportasi Bersih?

AC: Kebutuhan atau Cuma Gengsi?

Nah, ini bagian yang bikin saya penasaran. Sebagai orang yang pernah pergi ke Surabaya, saya paham betul kenapa orang di sana rajin pakai AC, wong memang panas sepanjang hari.

Tapi begitu balik ke Malang, saya melihat pemandangan yang menurut saya agak lucu, orang-orang menyetel AC sampai mentok di angka 16 derajat, padahal suhu di luar sebenarnya nggak sepanas itu.

Saya jadi mikir, sebenarnya AC di Malang ini beneran dibutuhkan, atau cuma soal gaya-gayaan aja?

Kalau melihat data suhu Malang yang jarang tembus 30 derajat, rasanya kebiasaan menyetel AC sampai 16 derajat itu memang jauh melampaui kebutuhan aktual tubuh untuk merasa nyaman.

Ini kemungkinan besar lebih ke soal kebiasaan dan gaya hidup, bukan murni respons terhadap suhu yang benar-benar menyengat.

Desain Bangunan Juga Ikut “Salah”

Selain gaya hidup, desain bangunan juga ikut memengaruhi kebutuhan pendingin ruangan. Rumah atau bangunan yang memiliki sirkulasi udara terbatas, minim bukaan, atau banyak menerima paparan sinar matahari dapat membuat suhu di dalam ruangan terasa lebih hangat dibandingkan udara di luar.

Kondisi ini membuat kipas angin atau AC tetap digunakan untuk menjaga kenyamanan, terutama ketika aktivitas berlangsung pada siang hari.

Jadi, meskipun udara Malang relatif sejuk, kondisi di dalam bangunan belum tentu selalu terasa sama dengan udara di luar.

Ini menyimpulkan bahwa ukuran dan posisi bukaan jendela yang tepat sebenarnya bisa memaksimalkan penghawaan alami.

Sayangnya, banyak bangunan komersial baru lebih mementingkan tampilan kece dan efisiensi lahan ketimbang sirkulasi udara.

Hasilnya, gedung-gedung ini dibangun tertutup rapat dan otomatis bikin penghuninya bergantung penuh pada AC, padahal lokasinya sebenarnya masih cukup adem.

Jadi, Kebutuhan atau Kebiasaan?

Kalau ditanya AC di Malang itu kebutuhan atau sekadar kebiasaan, jawabannya mungkin ada di tengah-tengah.

Ada faktor kenaikan suhu kota akibat urbanisasi yang bikin kota beneran makin panas, ada juga desain bangunan yang kurang ramah ventilasi, tapi ada juga unsur gaya hidup dan selera pribadi yang bikin orang betah nyetel AC sampai dingin banget, walau di luar sebenarnya masih sejuk.

Jadi mungkin bukan salah AC-nya juga sih, tapi lebih ke gaya hidup kita yang mulai terbiasa manja sama pendingin ruangan.

Yang pasti, fenomena ini jadi pengingat kecil buat kita semua.

Sebelum buru-buru nyalain AC dan mentok-in suhunya ke angka paling rendah, coba deh sesekali cek dulu, apakah ruangannya beneran panas, atau cuma udah jadi kebiasaan aja.

Baca Juga: Kota Terkaya Belum Tentu Bahagia, Apa yang Sebenarnya Dicari Warga?

Siapa tahu, dengan sedikit lebih sadar soal ini, tagihan listrik bisa lebih hemat, dan bumi juga sedikit lebih lega karena konsumsi energinya berkurang.

Leave a Comment

Related Post