Mengenal Angsle, Sajian Hangat Khas Malang yang Bikin Nagih

Bima Yoga

September 12, 2026

4
Min Read
Mengenal Angsle, Sajian Hangat Khas Malang yang Bikin Nagih
Udara Kota Malang yang sejuk, apalagi menjelang malam, memang paling pas ditemani semangkuk minuman hangat.

sekitarmalangraya – Udara Kota Malang yang sejuk, apalagi menjelang malam, memang paling pas ditemani semangkuk minuman hangat.

Salah satu sajian legendaris yang wajib dicoba saat berkunjung ke kota ini adalah wedang angsle, minuman santan khas Malang yang punya cita rasa unik dan sudah melekat sebagai bagian dari identitas kuliner setempat.

Apa Itu Wedang Angsle

Dalam khazanah kuliner Jawa, istilah wedang merujuk pada minuman hangat atau panas yang biasanya dibuat dari bahan-bahan berkhasiat seperti jahe, kayu manis, secang, pala, cengkih, hingga daun pandan.

Angsle sendiri merupakan salah satu varian wedang yang memadukan kuah gurih dari santan dengan berbagai isian manis di dalamnya.

Kuah angsle umumnya dibuat dari campuran santan, daun pandan, dan vanili, sehingga menghasilkan aroma khas yang menggugah selera begitu disajikan hangat.

Menariknya, penelitian tentang tradisi kuliner Malang menyebutkan bahwa angsle sejak dulu dikenal sebagai minuman penyegar yang cocok dinikmati sehari-hari maupun disuguhkan dalam berbagai acara khusus di masyarakat.

Isian Angsle yang Bikin Nagih

Daya tarik utama angsle terletak pada beragamnya isian yang disajikan dalam satu mangkuk. Beberapa bahan yang umum ditemukan antara lain petulo atau putu mayang, kacang hijau rebus, ketan putih, sagu mutiara, potongan roti tawar, tape singkong, hingga irisan kolang-kaling.

Petulo sendiri terbuat dari tepung beras dan tapioka atau tepung sagu, sehingga menghasilkan tekstur kenyal dan lembut saat digigit.

Perpaduan isian yang beragam inilah yang membuat setiap suapan angsle terasa kaya rasa dan tekstur, mulai dari kenyalnya petulo, lembutnya ketan, hingga sensasi manis dari tape singkong yang berpadu dengan gurihnya kuah santan hangat.

Perbedaan Angsle dengan Sekoteng

Banyak orang kerap menyamakan angsle dengan sekoteng, mengingat keduanya sama-sama merupakan minuman hangat tradisional dengan isian yang mirip.

Namun, terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Kuah angsle menggunakan santan sebagai bahan utama, sementara sekoteng umumnya berbahan dasar air jahe tanpa santan.

Menariknya, pada resep aslinya, angsle justru tidak menggunakan jahe sebagai bahan kuah, karena dianggap dapat mengubah kenikmatan rasa santan yang menjadi ciri khasnya.

Baca Juga: Pantai Malang Selatan Simpan 5 Keajaiban Alam yang Memikat Wisatawan

Meski demikian, seiring berjalannya waktu, sebagian penjual kini menambahkan sedikit jahe pada kuah angsle, mengingat penggunaan bahan berkhasiat tersebut memang sudah lekat dengan tradisi minuman hangat khas Nusantara.

Sejarah dan Ciri Khas Penyajian

Asal-usul pasti kemunculan wedang angsle memang belum diketahui secara jelas, namun minuman ini dipercaya sudah dikenal luas oleh masyarakat Malang sejak zaman dahulu.

Salah satu ciri khas penyajian angsle yang membedakannya dari minuman hangat lain adalah penggunaan mangkuk khusus yang khas, biasanya disertai dengan sendok berbentuk unik menyerupai bentuk bebek.

Proses pembuatan wedang angsle juga tidak bisa dibilang instan. Diperlukan waktu sekitar satu jam untuk memasak seluruh bahan agar aroma dan rasa dapat meresap sempurna ke dalam kuah santan.

Proses memasak santan pun perlu dilakukan sambil terus diaduk agar tidak pecah, sebelum akhirnya dicampurkan dengan berbagai isian dan disajikan hangat dengan taburan kacang goreng di atasnya.

Tempat Menikmati Angsle Legendaris di Malang

Bagi yang penasaran mencicipi angsle asli Malang, beberapa penjual legendaris masih setia mempertahankan cita rasa otentik hingga kini.

Salah satunya adalah Ronde Titoni yang berlokasi di Jalan Zainul Arifin, tak jauh dari alun-alun Kota Malang, dan telah beroperasi sejak tahun 1948.

Selain angsle, tempat ini juga dikenal dengan wedang rondenya, dengan sistem penyajian yang memungkinkan pembeli memilih sendiri isian yang diinginkan.

Selain itu, ada pula Angsle Pak Solikin di kawasan Pasar Polehan, Blimbing, yang telah berjualan sejak tahun 1976.

Usaha ini kini diteruskan oleh generasi berikutnya dengan tetap mempertahankan penggunaan arang sebagai metode memasak tradisional, sehingga cita rasa khasnya tetap terjaga.

Meski wedang angsle juga dapat ditemukan di beberapa kota lain di Jawa Timur seperti Surabaya, Pasuruan, dan Blitar, mencicipinya langsung di Kota Malang tentu memberikan sensasi yang berbeda, mengingat kota inilah yang dipercaya sebagai tempat asal minuman legendaris tersebut.

Baca Juga: Malang Makin Panas? Ini Urgensi Menjaga Kota Tetap Sejuk

Bagi pengunjung yang baru pertama kali mencoba, jangan kaget jika porsi yang disajikan cenderung kecil dalam satu mangkuk, sehingga tak jarang banyak orang memilih menambah porsi kedua karena rasanya yang bikin nagih.

Dengan cita rasa gurih manis yang khas serta kehangatan yang pas dinikmati di tengah udara sejuk Kota Malang, wedang angsle layak menjadi salah satu kuliner wajib coba bagi siapa pun yang berkunjung ke kota ini, sekaligus menjadi bukti kekayaan tradisi kuliner Nusantara yang patut terus dilestarikan.

Leave a Comment

Related Post