Jurusan Sepi Peminat di Berbagai Kampus, Apakah Peluangnya Justru Menarik?

Mazaya Farandy

October 13, 2026

6
Min Read
Jurusan sepi peminat kerap menjadi pertimbangan calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

sekitarmalangraya – Jurusan sepi peminat kerap menjadi pertimbangan calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

Di tengah persaingan masuk kampus favorit, program studi yang tidak terlalu banyak diminati terlihat menawarkan alternatif.

Namun, sedikitnya jumlah pendaftar tidak otomatis membuat suatu jurusan buruk, kurang berkualitas, atau memiliki masa depan karier yang suram.

Memilih program studi seharusnya tidak hanya berangkat dari keinginan untuk lolos seleksi. Calon mahasiswa juga perlu memahami materi perkuliahan, kemampuan yang akan dikembangkan, serta bidang pekerjaan yang relevan setelah lulus.

Dengan begitu, keputusan memilih jurusan tidak berhenti pada peluang masuk, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan menjalani pendidikan dan membangun karier.

Jurusan Sepi Peminat di Berbagai Kampus Jadi Pertimbangan Calon Mahasiswa

    Setiap tahun, persaingan penerimaan mahasiswa baru membuat calon mahasiswa harus menyusun strategi. Sebagian memilih program studi populer karena dianggap memiliki prospek kerja menjanjikan, sedangkan sebagian lainnya mempertimbangkan jurusan yang jumlah pendaftarnya relatif lebih sedikit.

    Fenomena ini terlihat dalam pemberitaan Tirto mengenai pilihan program studi pada Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.

    Sejumlah program studi di perguruan tinggi negeri, mulai dari bidang sains hingga bahasa, disebut memiliki jumlah peminat yang relatif rendah dibandingkan program studi lain. Contohnya meliputi Fisika, Akuakultur, Bahasa Inggris, Teknik Lepas Pantai, dan Sastra Rusia.

    Meski demikian, istilah jurusan sepi peminat tidak memiliki arti bahwa program studi tersebut tidak dibutuhkan.

    Jumlah pendaftar dapat dipengaruhi banyak hal, seperti popularitas kampus, lokasi, daya tampung, pemahaman masyarakat tentang bidang studi, serta persepsi mengenai pekerjaan setelah lulus.

    Karena itu, calon mahasiswa perlu berhati-hati ketika menggunakan daftar jurusan yang dianggap sepi peminat sebagai acuan.

    Data harus diperiksa berdasarkan tahun seleksi dan jalur penerimaan yang sama. Angka SNBP, misalnya, tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah pendaftar SNBT atau seleksi mandiri.

    Baca Juga : Belajar Mitigasi Banjir Lewat Virtual Reality, Bisakah Siswa Lebih Siap Menghadapi Bencana?

    Contoh Jurusan Sepi Peminat di Sejumlah Perguruan Tinggi

      Pemberitaan Tirto tentang SNBP 2026 mencantumkan beberapa program studi yang dapat dijadikan titik awal untuk melakukan penelusuran.

      Di Universitas Airlangga (Unair), contohnya meliputi Fisika, Akuakultur, dan Bahasa Inggris. Sementara itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memiliki contoh seperti Fisika, Sains Analitik dan Instrumentasi Kimia, serta Teknik Lepas Pantai.

      Di Universitas Jember (Unej), program studi yang disebut antara lain Fisika, Proteksi Tanaman, dan Rekayasa Perancangan Mekanik.

      Universitas Negeri Malang (UM) juga tercantum melalui program Perpustakaan Digital dan Teknologi Rekayasa Manufaktur.

      Adapun di Universitas Brawijaya (UB), contoh yang diberitakan meliputi Bahasa dan Sastra Prancis, Instrumentasi, serta Seni Rupa Murni.

      Contoh tersebut memperlihatkan bahwa program studi dengan jumlah peminat relatif rendah tidak hanya berasal dari satu rumpun ilmu.

      Bidang sains dasar, teknologi terapan, bahasa, pertanian, hingga seni dapat memiliki tingkat persaingan berbeda-beda di setiap kampus.

      Namun, daftar tersebut tidak boleh dianggap sebagai peringkat resmi terbaru atau jaminan bahwa jurusan yang sama selalu sepi peminat. Angka pendaftar dan daya tampung dapat berubah setiap tahun.

      Calon mahasiswa perlu memeriksa informasi program studi melalui portal resmi SNPMB untuk SNBP dan laman daya tampung SNBT.

      Portal tersebut menyediakan informasi daya tampung berdasarkan perguruan tinggi dan program studi.

      Penting pula membedakan jumlah peminat dengan daya tampung. Program studi yang memiliki sedikit pendaftar belum tentu mudah ditembus apabila kursi yang tersedia juga terbatas.

      Sebaliknya, jumlah peminat yang lebih besar tidak selalu berarti persaingan lebih berat jika daya tampungnya juga berbeda.

      Mengapa Sejumlah Jurusan Kurang Diminati?

        Ada beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan mengapa suatu program studi kurang populer. Salah satunya adalah keterbatasan informasi.

        Tidak semua calon mahasiswa memahami apa yang dipelajari dalam bidang seperti Instrumentasi, Proteksi Tanaman, atau Sains Analitik dan Instrumentasi Kimia.

        Nama program studi yang terdengar khusus terkadang membuat calon mahasiswa sulit membayangkan kegiatan kuliah dan pekerjaan yang berkaitan dengannya.

        Persepsi tentang prospek kerja juga dapat memengaruhi pilihan. Sebagian siswa lebih mengenal bidang yang sering dibicarakan, seperti kedokteran, hukum, manajemen, atau teknologi informasi.

        Sementara itu, bidang lain mungkin memiliki jalur karier yang lebih khusus dan membutuhkan penjelasan lebih mendalam.

        Faktor lokasi turut layak dipertimbangkan. Program studi yang berada di kampus cabang atau daerah tertentu mungkin kurang menarik bagi calon mahasiswa yang memiliki keterbatasan biaya, akses transportasi, atau pertimbangan keluarga.

        Namun, alasan-alasan tersebut merupakan kemungkinan yang perlu diuji, bukan kesimpulan yang berlaku untuk seluruh program studi.

        Menurut saya, label jurusan sepi peminat menjadi bermasalah ketika langsung dipakai untuk menilai kualitas pendidikan.

        Popularitas dan mutu akademik merupakan dua hal berbeda. Penilaian yang lebih lengkap perlu melihat kurikulum, dosen, fasilitas pembelajaran, akreditasi, kesempatan magang, serta aktivitas penelitian atau praktik yang tersedia.

        Apakah Jurusan Sepi Peminat Memiliki Peluang Karier?

          Peluang karier tidak dapat dipastikan hanya dari jumlah pendaftar sebuah program studi. Hal yang lebih relevan adalah kompetensi yang dipelajari, kebutuhan bidang kerja, serta kemampuan lulusan menerapkan pengetahuan tersebut.

          Sebagai contoh, bidang Proteksi Tanaman berkaitan dengan pengelolaan organisme pengganggu tanaman dan perlindungan produksi pertanian.

          Kompetensinya dapat relevan dengan kegiatan pertanian, penelitian, pendampingan teknis, atau industri yang berhubungan dengan perlindungan tanaman.

          Sementara itu, bidang Instrumentasi berhubungan dengan pengukuran dan sistem instrumen yang digunakan dalam berbagai kegiatan teknis dan industri.

          Peluang konkretnya tetap bergantung pada kurikulum, keterampilan lulusan, dan kebutuhan pemberi kerja.

          Pada bidang bahasa, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya, penerjemahan, penulisan, atau pekerjaan lain yang membutuhkan penguasaan bahasa.

          Namun, kemampuan bahasa saja belum tentu cukup. Pengalaman, keterampilan digital, pemahaman bidang tertentu, dan kemampuan berkomunikasi dapat menjadi nilai tambah.

          Artinya, jurusan sepi peminat bisa menjadi pilihan menarik bagi calon mahasiswa yang benar-benar tertarik pada bidangnya.

          Akan tetapi, tidak tepat menjanjikan bahwa semua jurusan tersebut pasti mudah mendapatkan pekerjaan atau memiliki persaingan karier yang lebih ringan.

          Calon mahasiswa sebaiknya menelusuri profil lulusan, kurikulum, kegiatan magang, dan informasi alumni dari kampus yang dituju.

          Baca Juga : Literasi Bukan Sekadar Membaca, Mengapa Siswa Perlu Belajar Memahami Informasi?

          Cara Memilih Jurusan Selain Melihat Jumlah Peminat

            Langkah pertama adalah memeriksa kurikulum. Calon mahasiswa perlu mengetahui mata kuliah yang akan ditemui selama kuliah, bentuk tugas, serta kemampuan yang ditargetkan.

            Pilihan yang tampak menarik dari nama atau jumlah pendaftar bisa terasa berbeda setelah materi perkuliahannya dipahami.

            Kedua, periksa akreditasi program studi dan fasilitas pendukung pembelajaran. Informasi tersebut dapat membantu calon mahasiswa memahami penyelenggaraan pendidikan, meskipun tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan pilihan.

            Ketiga, telusuri bidang kerja yang relevan dengan kompetensi lulusan. Gunakan informasi dari laman resmi kampus, profil alumni, lowongan pekerjaan, atau organisasi profesi jika tersedia.

            Jangan hanya mengandalkan klaim bahwa suatu jurusan sedang dibutuhkan tanpa memeriksa bukti dan konteksnya.

            Keempat, bandingkan data peminat dan daya tampung dari tahun-tahun sebelumnya. Portal SNPMB dapat digunakan untuk memeriksa daya tampung, sedangkan informasi jumlah peminat perlu dicocokkan dengan data resmi atau publikasi yang menjelaskan tahun dan jalur seleksinya.

            Pada akhirnya, jurusan sepi peminat bukan otomatis pilihan terbaik ataupun pilihan yang harus dihindari. Keputusan yang matang perlu mempertimbangkan minat, kemampuan akademik, kesiapan mengikuti perkuliahan, biaya pendidikan, dan gambaran karier.

            Jumlah pendaftar dapat membantu menyusun strategi seleksi, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan untuk menentukan masa depan pendidikan.

            Leave a Comment

            Related Post