sekitarmalangraya – Budaya hustle mulai dipertanyakan ketika kesibukan, lembur, dan kemampuan untuk terus bekerja dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang.
Padahal, bekerja keras memang penting untuk mencapai tujuan, tetapi apakah semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan otomatis membuat seseorang semakin sukses?
Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika cara generasi muda memandang pekerjaan mulai berubah. Bagi sebagian orang, karier bukan lagi sekadar tentang mendapatkan penghasilan atau mengejar jabatan setinggi mungkin.
Waktu untuk keluarga, kehidupan sosial, kesehatan, pengembangan diri, hingga kesempatan untuk benar-benar beristirahat juga mulai masuk dalam pertimbangan.
Perubahan cara pandang ini bukan berarti anak muda ingin menghindari kerja keras. Justru, persoalannya adalah bagaimana kerja keras ditempatkan secara proporsional agar pekerjaan tetap menjadi bagian dari kehidupan, bukan mengambil alih seluruh kehidupan.
Hustle Culture Pernah Dianggap sebagai Jalan Menuju Kesuksesan
Budaya hustle tumbuh dari gagasan bahwa seseorang harus selalu bergerak jika ingin mencapai sesuatu. Bangun lebih pagi, bekerja lebih lama, mengambil pekerjaan tambahan, mengejar target berikutnya, dan terus meningkatkan pencapaian sering dipandang sebagai bukti ambisi.
Dalam konteks tertentu, pola tersebut memang dapat menghasilkan sesuatu. Orang yang memiliki tujuan jelas tentu membutuhkan disiplin dan konsistensi. Tidak semua keberhasilan bisa dicapai dengan bekerja santai tanpa usaha.
Ada masa ketika seseorang memang perlu bekerja lebih keras untuk membangun karier, menyelesaikan pendidikan, mengembangkan bisnis, atau mencapai target tertentu.
Masalah muncul ketika kerja keras tidak lagi dianggap sebagai sarana, melainkan identitas. Seseorang bisa merasa dirinya kurang berhasil hanya karena memiliki waktu luang. Istirahat dianggap membuang waktu, sementara kesibukan diperlakukan seperti lencana prestasi.
Di titik inilah budaya hustle perlu dipertanyakan. Bukan karena bekerja keras merupakan sesuatu yang salah, tetapi karena ukuran keberhasilan menjadi terlalu sempit.
Baca Juga : Media Sosial Mengubah Gaya Hidup Anak Muda, Benarkah Semua Tren Harus Diikuti?
Ketika Bekerja Keras Berubah Menjadi Kewajiban untuk Selalu Sibuk
Ada perbedaan antara bekerja keras dan merasa harus selalu bekerja. Seseorang dapat bekerja dengan penuh dedikasi selama jam kerja, menyelesaikan tanggung jawab dengan baik, kemudian menggunakan waktu di luar pekerjaan untuk beristirahat.
Sebaliknya, seseorang juga dapat bekerja sepanjang hari, terus memeriksa pesan pekerjaan pada malam hari, dan tetap merasa bersalah ketika tidak melakukan sesuatu yang produktif.
Pola kedua inilah yang lebih dekat dengan persoalan budaya hustle. Ketika pekerjaan tidak lagi memiliki batas, waktu pribadi perlahan kehilangan ruang.
Kementerian Ketenagakerjaan melalui SENTA pada 7 Oktober 2026 menyoroti perubahan cara Gen Z memaknai work-life balance.
Dalam artikel tersebut, Kemnaker menjelaskan bahwa keseimbangan hidup bagi Gen Z bukan hanya soal membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan makna, kendali, dan keberlanjutan hidup.
Pembahasan SENTA tersebut menunjukkan adanya kecenderungan Gen Z untuk lebih kritis terhadap budaya hustle dan memandang work-life balance secara lebih luas.
Menurut saya, perubahan tersebut layak dilihat bukan sebagai tanda melemahnya etos kerja, melainkan sebagai evaluasi terhadap cara bekerja yang selama ini dianggap normal.
Sebab, jika seseorang harus terus bekerja agar merasa berharga, maka persoalannya sudah bukan lagi tentang produktivitas.
Gen Z Mulai Mengubah Cara Memandang Kesuksesan
Data Jakpat memperlihatkan bahwa pertimbangan Gen Z ketika memilih pekerjaan tidak hanya berhenti pada gaji.
Dalam survei terhadap 1.158 responden berusia 17–28 tahun yang diterbitkan Februari 2026, gaji dan kompensasi menjadi pertimbangan terbesar dengan angka 71 persen.
Namun, 57 persen mempertimbangkan lingkungan kerja yang suportif, 55 persen melihat peluang perkembangan karier jangka panjang, dan 50 persen menempatkan work-life balance sebagai prioritas.
Angka tersebut menarik karena menunjukkan bahwa penghasilan tetap penting. Jadi, tidak tepat jika perubahan pandangan terhadap pekerjaan langsung diterjemahkan sebagai keinginan untuk bekerja sesedikit mungkin.
Yang berubah justru ukuran pekerjaan yang dianggap ideal. Bagi sebagian pekerja muda, mendapatkan penghasilan yang layak tetap menjadi kebutuhan utama.
Namun, pekerjaan juga diharapkan memberikan lingkungan yang sehat, peluang berkembang, serta ruang untuk menjalani kehidupan di luar kantor.
Di sinilah budaya hustle mulai kehilangan daya tariknya. Kesuksesan tidak lagi harus terlihat dari berapa jam seseorang berada di depan laptop atau seberapa sering ia mengatakan sedang sibuk.
Seseorang bisa memiliki ambisi besar tanpa harus menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya pusat kehidupannya.
Produktif Tidak Harus Berarti Bekerja Tanpa Henti
Salah satu kesalahan terbesar dalam budaya hustle adalah mencampuradukkan produktivitas dengan kesibukan.
Orang yang sibuk belum tentu produktif. Begitu pula orang yang memiliki waktu istirahat belum tentu tidak memiliki ambisi.
Produktivitas seharusnya lebih dekat dengan kemampuan menghasilkan sesuatu secara efektif daripada sekadar menghabiskan waktu untuk bekerja.
Jika pekerjaan delapan jam dapat diselesaikan dengan baik dalam delapan jam, mengapa lembur harus selalu dianggap sebagai tanda dedikasi?
Teknologi juga membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin mudah bercampur. Pesan pekerjaan dapat masuk kapan saja, sementara sistem kerja remote dan hybrid memungkinkan seseorang tetap terhubung dengan pekerjaan meskipun sudah berada di luar jam kerja.
Fleksibilitas tersebut memang memberikan kebebasan, tetapi tanpa batas yang jelas justru dapat membuat seseorang merasa harus selalu tersedia. Dalam kondisi seperti ini, bekerja lebih lama belum tentu berarti bekerja lebih produktif.
Karena itu, budaya hustle tidak seharusnya dilawan dengan budaya malas. Yang dibutuhkan adalah cara bekerja yang lebih proporsional: serius ketika memang harus bekerja, beristirahat ketika tubuh dan pikiran membutuhkan jeda, serta membangun karier tanpa merasa harus mengorbankan seluruh kehidupan pribadi.
Baca Juga : Hidup Sehat Makin Populer, Tapi Apakah Kita Benar-Benar Menjadi Lebih Sehat?
Sukses Seharusnya Tidak Hanya Diukur dari Seberapa Sibuk Seseorang
Pada akhirnya, pertanyaan tentang budaya hustle bukanlah apakah seseorang boleh bekerja keras. Tentu saja boleh, bahkan dalam banyak situasi memang harus dilakukan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah untuk apa kerja keras tersebut dilakukan. Jika seseorang bekerja keras untuk membangun kehidupan yang lebih baik, maka pekerjaan memiliki tujuan yang jelas.
Namun, jika seseorang bekerja tanpa henti hanya karena takut terlihat tertinggal, maka kesibukan tersebut patut dievaluasi.
Kesuksesan juga memiliki bentuk yang berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, sukses berarti memiliki karier yang tinggi.
Bagi yang lain, sukses berarti memiliki bisnis sendiri, mampu membantu keluarga, mempunyai waktu bersama orang terdekat, atau memiliki kehidupan yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh pekerjaan.
Karena itu, menurut saya, budaya hustle sebaiknya tidak dijadikan standar universal. Kerja keras memang dapat membuka peluang, tetapi kerja keras bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan.
Kemampuan, kesempatan, lingkungan, jaringan, kondisi ekonomi, dan keputusan yang tepat juga ikut berpengaruh.
Justru, kemampuan mengetahui kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti dapat menjadi bagian dari kedewasaan dalam membangun karier.
Pada akhirnya, bekerja keras seharusnya menjadi alat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, bukan ukuran tunggal tentang seberapa berharga seseorang.
Kesuksesan tidak harus selalu terlihat dalam bentuk jadwal yang penuh, lembur yang panjang, atau seseorang yang terus mengatakan bahwa dirinya terlalu sibuk.
Mungkin sudah waktunya mengubah pertanyaannya. Bukan lagi, “Seberapa sibuk kamu hari ini?” melainkan, “Apakah pekerjaan yang kamu lakukan sedang membawamu menuju kehidupan yang memang kamu inginkan?”
Jika jawabannya iya, kerja keras memiliki arah. Jika tidak, mungkin yang perlu ditambah bukan jam kerja, melainkan keberanian untuk menentukan batas.









Leave a Comment