sekitarmalangraya – Inflasi Jatim kembali menjadi perhatian setelah laju harga konsumen pada September 2026 tercatat 3,33% secara tahunan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan September 2025 yang berada di level 2,53%. Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan sederhana bagi masyarakat: ketika harga sejumlah kebutuhan meningkat, apakah daya beli otomatis ikut tertekan?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Jawa Timur mengalami inflasi 0,24% secara bulanan pada September 2026.
Sementara itu, inflasi tahun kalender atau sejak Januari hingga September mencapai 2,07%. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya kenaikan harga, tetapi dampaknya terhadap daya beli tidak bisa dinilai hanya dari satu angka inflasi.
Inflasi Jatim September 2026 Naik, Bagaimana Kondisinya?
Inflasi Jatim sebesar 3,33% secara tahunan berarti tingkat harga konsumen pada September 2026 secara umum lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara bulanan, kenaikannya tercatat 0,24%. IHK Jawa Timur pada September 2026 berada di angka 112,53.
Jika melihat perbandingan tahunan, tekanan harga memang meningkat. Pada September 2024, inflasi tahunan Jawa Timur tercatat 1,73%, kemudian menjadi 2,53% pada September 2025 dan 3,33% pada September 2026.
Namun, inflasi tidak berarti seluruh barang mengalami kenaikan dengan besaran yang sama. BPS mencatat terdapat komoditas yang harganya naik, sementara komoditas lain justru mengalami penurunan.
Karena itu, pengalaman setiap rumah tangga terhadap inflasi bisa berbeda bergantung pada kebutuhan dan pola belanjanya.
Secara wilayah, kondisi juga tidak seragam. Sumenep mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,85%, sedangkan Banyuwangi menjadi yang terendah dengan 2,69%. Kota Malang berada di angka 3,19%, sedikit di bawah inflasi Jawa Timur.
Baca Juga : BSU Rp900 Ribu Cair Oktober 2026, Ini Cara Cek Penerima
Harga Pangan Jadi Salah Satu Pendorong Inflasi Jatim
Inflasi Jatim pada September 2026 tidak terlepas dari pergerakan harga pangan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan 4,68% dengan andil 1,30% terhadap inflasi Jawa Timur.
Beberapa komoditas yang memberikan tekanan cukup besar antara lain cabai rawit, daging ayam ras, daging sapi, beras, dan minyak goreng.
Cabai rawit memberikan andil 0,21%, daging ayam ras 0,17%, daging sapi 0,14%, beras 0,13%, dan minyak goreng 0,12 % terhadap inflasi tahunan.
Bagi rumah tangga, kenaikan pangan bisa terasa lebih langsung karena makanan merupakan kebutuhan rutin.
Ketika harga bahan makanan meningkat, pengeluaran untuk kebutuhan harian dapat ikut bertambah apabila jumlah konsumsi tidak berubah.
Meski demikian, tidak semua pangan bergerak naik. BPS juga mencatat bawang merah, telur ayam ras, kelapa, dan cabai merah sebagai beberapa komoditas yang memberikan tekanan deflasi secara tahunan. Hal ini memperlihatkan bahwa perubahan harga dalam keranjang konsumsi masyarakat cukup beragam.
Bukan Hanya Pangan, Harga Emas Juga Berpengaruh
Inflasi Jatim juga dipengaruhi kelompok di luar kebutuhan pangan. Salah satunya adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi tahunan 6,73%. Kelompok tersebut memberikan andil 0,48% terhadap inflasi Jawa Timur.
Emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang berpengaruh besar dalam kelompok tersebut. Berdasarkan data BPS yang dikutip dalam laporan mengenai inflasi September 2026, emas perhiasan memberikan andil 0,37% terhadap inflasi tahunan Jawa Timur.
Selain itu, kelompok transportasi juga mengalami inflasi tahunan sebesar 5,17% dengan andil 0,64%.
Angkutan udara dan bensin menjadi beberapa komoditas yang memberikan kontribusi terhadap kelompok tersebut.
Gambaran ini penting karena pengeluaran masyarakat tidak hanya terdiri dari makanan. Biaya transportasi, kebutuhan pribadi, dan berbagai pengeluaran lain juga dapat memengaruhi anggaran rumah tangga ketika harganya bergerak naik.
Apakah Inflasi Jatim Bisa Menekan Daya Beli Masyarakat?
Inflasi Jatim yang meningkat memang dapat memberikan tekanan terhadap daya beli, tetapi bukan berarti daya beli seluruh masyarakat pasti turun. Kuncinya terletak pada hubungan antara kenaikan harga dan perubahan pendapatan.
Jika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatan seseorang tidak berubah, kemampuan membeli barang dan jasa dengan jumlah uang yang sama dapat berkurang.
Kondisi tersebut dapat membuat rumah tangga mengubah prioritas, mengurangi pembelian tertentu, atau mencari pilihan barang yang lebih murah.
Sebaliknya, jika pendapatan meningkat sejalan atau lebih cepat dibandingkan kenaikan harga, dampaknya terhadap kemampuan konsumsi bisa berbeda. Karena itu, menyimpulkan daya beli hanya berdasarkan angka inflasi akan terlalu sederhana.
Pola konsumsi juga menentukan dampaknya. Rumah tangga yang porsi belanjanya banyak digunakan untuk pangan mungkin lebih sensitif terhadap kenaikan harga bahan makanan.
Sementara rumah tangga dengan struktur pengeluaran berbeda dapat merasakan tekanan yang berbeda pula.
Data inflasi pada akhirnya lebih tepat dibaca sebagai gambaran perubahan harga secara umum. Untuk melihat kondisi daya beli secara lebih utuh, perlu diperhatikan pula perkembangan pendapatan, konsumsi, kesempatan kerja, dan kondisi ekonomi rumah tangga.
Baca Juga : Harga Marjan dan Persaingan Sirup, Bagaimana Produk Menentukan Pasarnya?
Masyarakat Perlu Menyesuaikan Pengeluaran Saat Harga Bergerak
Ketika inflasi Jatim meningkat, masyarakat dapat merespons dengan pengelolaan keuangan yang lebih terukur. Langkah pertama adalah membedakan kebutuhan utama dengan pengeluaran yang masih dapat ditunda.
Kenaikan harga pangan juga membuat perbandingan harga menjadi semakin penting. Masyarakat dapat membandingkan harga dari beberapa tempat, menyesuaikan pilihan merek, atau mengatur kembali jumlah pembelian tanpa mengabaikan kebutuhan utama.
Anggaran rumah tangga juga sebaiknya dievaluasi secara berkala. Pengeluaran untuk makanan, transportasi, tagihan, dan kebutuhan lainnya dapat dicatat agar perubahan harga lebih mudah terlihat.
Dengan begitu, keputusan mengurangi pengeluaran tidak dilakukan secara spontan, melainkan berdasarkan prioritas.
Pada akhirnya, kenaikan inflasi tidak selalu berarti masyarakat harus mengurangi seluruh konsumsi. Yang lebih penting adalah memahami bagian mana dari pengeluaran yang paling terdampak dan menyesuaikannya dengan kemampuan pendapatan.
Inflasi Jatim sebesar 3,33% pada September 2026 menjadi pengingat bahwa perubahan harga dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari melalui berbagai jalur.
Pangan memang menjadi salah satu pendorong utama, tetapi transportasi dan kebutuhan pribadi juga ikut berperan.
Dampak akhirnya terhadap daya beli tetap bergantung pada kondisi pendapatan dan pola konsumsi masing-masing rumah tangga.









Leave a Comment