BRImo Jadi Super Apps Perbankan, Penggunanya Tembus 49,7 Juta pada 2026

Mazaya Farandy

September 29, 2026

5
Min Read
BRImo menjadi salah satu apps perbankan digital yang mencatat pertumbuhan pengguna cukup besar pada 2026.

sekitarmalangraya – BRImo menjadi salah satu apps perbankan digital yang mencatat pertumbuhan pengguna cukup besar pada 2026.

Hingga Juni 2026, layanan milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tersebut telah digunakan 49,7 juta pengguna, dengan 3,32 miliar transaksi finansial dan volume transaksi mencapai Rp. 4.166 triliun.

Capaian itu menunjukkan bahwa perkembangan apps perbankan tidak lagi hanya berkaitan dengan kebutuhan transfer atau pembayaran.

Bagi industri perbankan, kanal digital mulai menjadi bagian dari strategi untuk membangun hubungan dengan nasabah, memperluas akses keuangan, sekaligus menopang aktivitas ekonomi sehari-hari.

BRI menyebut BRImo sebagai Super App yang menggabungkan berbagai kebutuhan finansial dan sejumlah layanan gaya hidup dalam satu ekosistem.

Perkembangan tersebut menjadi gambaran bagaimana digitalisasi mengubah cara bank berinteraksi dengan nasabah.

BRImo Tembus 49,7 Juta Pengguna pada 2026

Berdasarkan keterangan resmi BRI pada 14 Agustus 2026, jumlah pengguna BRImo mencapai 49,7 juta hingga Juni 2026.

Pada periode yang sama, aplikasi tersebut mencatat 3,32 miliar transaksi finansial dengan nilai transaksi Rp. 4.166 triliun.

Angka pengguna itu meningkat dibandingkan posisi akhir 2025. Pada Desember 2025, BRImo tercatat memiliki 45,9 juta pengguna.

Dengan demikian, secara jumlah pengguna terdapat tambahan sekitar 3,8 juta pengguna dalam enam bulan.

Perbandingan ini hanya menunjukkan perubahan jumlah pengguna karena periode transaksi dan pengukurannya berbeda.

Pada 2025, BRImo mencatat 5,60 miliar transaksi sepanjang Januari hingga Desember dengan nilai Rp. 7.057 triliun.

Sementara angka Rp. 4.166 triliun merupakan capaian hingga Juni 2026, sehingga kedua angka tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai perbandingan tahunan langsung.

Direktur Information Technology BRI Saladin Dharma Nugraha Effendi mengatakan pertumbuhan BRImo tidak terlepas dari transformasi digital yang dijalankan BRI.

Menurutnya, pengembangan layanan diarahkan untuk menghadirkan layanan yang semakin terintegrasi dalam satu ekosistem.

Baca Juga : Bisnis Kotak Seserahan, Peluang Usaha Kreatif yang Menarik Perhatian

Dari Aplikasi Transaksi Menjadi Super App

Perubahan fungsi menjadi salah satu alasan mengapa apps perbankan semakin penting bagi industri. Persaingan apps kini juga mendorong bank untuk menyediakan lebih banyak kebutuhan dalam satu platform.

BRI menyebut BRImo sebagai Super App karena layanan di dalamnya tidak hanya mencakup transaksi dasar. BRImo dapat digunakan untuk transfer, pembayaran, investasi, serta sejumlah kebutuhan gaya hidup.

BRI juga menyebut fitur seperti pembelian emas melalui Toggle Nabung Emas Otomatis dan pembelian tiket transportasi maupun destinasi wisata melalui Aktivitas Seru.

Di sisi pembayaran, BRI mengembangkan QRIS Tap yang memungkinkan pengguna melakukan pembayaran dengan mendekatkan smartphone ke perangkat merchant tanpa melakukan pemindaian kode QR secara manual.

Perluasan layanan tersebut memperlihatkan perubahan pola persaingan di sektor perbankan. Bank tidak hanya perlu menyediakan rekening dan apps yang berfungsi sebagai kanal transaksi, tetapi juga berusaha menghadirkan pengalaman yang membuat berbagai aktivitas finansial dapat dilakukan dalam satu platform.

Namun, label Super App tetap merupakan istilah yang digunakan BRI untuk menggambarkan strategi layanannya. Besarnya jumlah pengguna tidak otomatis berarti seluruh pengguna memanfaatkan seluruh fitur yang tersedia.

Transaksi Digital Mulai Berpengaruh pada Bisnis Bank

Dari sisi ekonomi, pertumbuhan apps seperti BRImo menarik karena transaksi digital memiliki hubungan dengan strategi pendanaan bank.

Dalam keterangan BRI pada September 2026, perusahaan menyebut aktivitas BRImo mulai memberikan kontribusi terhadap funding dan revenue.

Pada akhir Triwulan II 2026, BRI mencatat Dana Pihak Ketiga sebesar Rp. 1.580,7 triliun, tumbuh 6,7% secara tahunan. Rasio dana murah atau CASA meningkat dari 65,5% menjadi 67,6% .

Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto menjelaskan bahwa transformasi BRI diarahkan untuk memperkuat funding franchise, terutama dana murah atau CASA.

Ia menyebut strategi tersebut dilakukan dengan memperkuat transaksi dan menjadikan BRI semakin relevan dalam aktivitas keuangan sehari-hari nasabah.

BRI juga menyatakan akan terus mengintegrasikan BRImo, merchant, QRIS, BRILink Agen, payroll, dan transaction banking.

Strategi ini menunjukkan bahwa apps bukan sekadar alat bantu transaksi, tetapi dapat ditempatkan dalam ekosistem bisnis perbankan yang lebih luas.

Ekosistem Digital Terhubung dengan Aktivitas Ekonomi

Digitalisasi perbankan tidak berhenti pada nasabah yang menggunakan smartphone. BRI juga mengembangkan jaringan fisik dan layanan agen untuk menjangkau masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi di luar aplikasi.

Hingga Juni 2026, BRI mencatat 1,13 juta BRILink Agen yang melayani masyarakat di lebih dari 60.753 desa.

Selama Semester I 2026, jaringan tersebut mencatat lebih dari 501 juta transaksi dengan sales volume Rp. 841 triliun.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan model BRILink menerapkan konsep sharing economy.

Menurutnya, pemilik warung, kios pasar, dan pelaku usaha ultra mikro dapat memperoleh sumber pendapatan baru melalui kemitraan tersebut.

Hubungan antara BRImo dan BRILink memperlihatkan bahwa transformasi digital berjalan bersama jaringan layanan fisik.

Apps menjadi salah satu pintu masuk, sementara kanal lain membantu memperluas akses transaksi ke berbagai wilayah.

Baca Juga : UMKM Indonesia Didorong Tembus Pasar Global, Apa yang Harus Disiapkan?

Digitalisasi Perbankan dan Perubahan Model Layanan

Perkembangan BRImo menunjukkan bahwa digitalisasi perbankan telah bergerak dari sekadar menyediakan kanal alternatif menjadi bagian dari strategi bisnis.

BRI mencatat pada 2025 bahwa 99,1% transaksi berasal dari layanan digital, sedangkan kurang dari 1% berlangsung melalui outlet konvensional.

Data tersebut berasal dari 2025 dan menjadi konteks penting bagi perkembangan apps. Angka itu tidak dapat dianggap sebagai gambaran langsung kondisi 2026.

Namun, data tersebut memberi konteks bahwa transaksi digital telah menjadi bagian besar dari aktivitas perbankan BRI sebelum jumlah pengguna BRImo mencapai 49,7 juta.

Pada akhirnya, pertumbuhan apps perbankan perlu dilihat bukan hanya dari jumlah unduhan atau pengguna.

Nilai ekonominya juga berkaitan dengan seberapa sering layanan digunakan, bagaimana transaksi mendukung aktivitas usaha, serta bagaimana bank mengelola hubungan dengan nasabah.

BRImo dengan 49,7 juta pengguna hingga Juni 2026 menunjukkan skala adopsi yang besar. Bersamaan dengan integrasi BRILink, merchant, QRIS, dan layanan transaction banking, perkembangan tersebut menggambarkan arah industri perbankan yang semakin mengandalkan ekosistem digital untuk menjalankan aktivitas ekonomi.

Leave a Comment

Related Post