Serba Cepat di Era Digital, Tapi Mengapa Kita Justru Semakin Sulit Bersabar?

Mazaya Farandy

September 28, 2026

5
Min Read
Era digital membuat banyak hal dalam hidup terasa harus berlangsung cepat. Pesan dikirim dalam hitungan detik, makanan datang lewat aplikasi, informasi muncul begitu kita mencarinya, dan hiburan tersedia tanpa perlu menunggu jadwal tertentu. Kemudahan ini jelas membawa manfaat dalam era digital.

sekitarmalangraya – Era digital membuat banyak hal dalam hidup terasa harus berlangsung cepat. Pesan dikirim dalam hitungan detik, makanan datang lewat aplikasi, informasi muncul begitu kita mencarinya, dan hiburan tersedia tanpa perlu menunggu jadwal tertentu. Kemudahan ini jelas membawa manfaat dalam era digital.

Namun, ketika kecepatan menjadi kebiasaan, muncul pertanyaan yang lebih sederhana: apakah kita masih nyaman ketika harus menunggu?

Kita Terbiasa Mendapatkan Sesuatu dengan Cepat

Dalam era digital, standar tentang kecepatan perlahan berubah. Mengirim pesan tidak lagi identik dengan menunggu berhari-hari.

Pesanan makanan dapat dipantau dari aplikasi, berita dapat ditemukan melalui mesin pencari, dan berbagai hiburan bisa diputar kapan saja.

Video pendek juga membuat informasi atau hiburan hadir dalam durasi yang sangat singkat. Satu konten selesai, konten berikutnya segera tersedia.

Kita tidak harus mencari sendiri karena sistem rekomendasi membantu menyodorkan materi berikutnya.

Semua itu bukan sesuatu yang buruk. Justru, kemajuan teknologi memang dirancang untuk menghemat waktu dan mengurangi hambatan dalam aktivitas sehari-hari. Persoalannya muncul ketika kecepatan tersebut berubah dari fasilitas menjadi ekspektasi.

Dalam era digital, kita dapat terbiasa menganggap respons lambat sebagai masalah, proses panjang sebagai ketidakefisienan, dan jeda sebagai sesuatu yang harus segera diisi. Padahal, tidak semua hal dalam kehidupan memang dirancang untuk selesai secepat mengirim pesan.

Baca Juga : Stadsklok Malang, Bangunan Bersejarah yang Dibidik Jadi Wisata Baru

Coba perhatikan reaksi ketika sebuah halaman membutuhkan beberapa detik untuk terbuka. Sebagian orang mungkin langsung menekan kembali atau berpindah aplikasi.

Antrean yang sebenarnya hanya perlu dilewati beberapa menit bisa terasa menjengkelkan. Membaca artikel panjang pun dapat terasa lebih berat dibanding melihat rangkuman singkat.

Masalahnya bukan semata-mata karena kita menjadi lebih malas. Ada perubahan lingkungan yang ikut membentuk kebiasaan.

Ketika hampir semua kebutuhan bisa dipenuhi dengan sedikit sentuhan layar, kemampuan untuk menunda kepuasan justru perlu digunakan dalam situasi yang berbeda.

Penelitian Lanfeng Zhou yang terbit di Acta Psychologica pada 2026 meneliti 1.099 mahasiswa dan menemukan bahwa penggunaan media sosial secara pasif, seperti melihat konten tanpa banyak berinteraksi, berkaitan dengan tingkat academic delay of gratification yang lebih rendah.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kecenderungan manajemen waktu berperan sebagai mediator, sementara fear of missing out memoderasi sejumlah hubungan dalam model penelitian.

Temuan ini penting, tetapi desain survei dan sifat cross-sectional membuatnya tidak cukup untuk menyatakan bahwa media sosial secara langsung menyebabkan seseorang menjadi tidak sabar.

Konsep delay of gratification sendiri berkaitan dengan kemampuan menunda kepuasan saat ini demi tujuan yang lebih panjang.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kemampuan seperti ini diperlukan ketika seseorang memilih menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu, belajar secara konsisten, atau menabung sebelum membeli sesuatu.

Konten Singkat dalam Era Digital dan Kebiasaan Mendapatkan Kepuasan Cepat

Era digital juga menghadirkan bentuk hiburan yang sangat mudah dikonsumsi. Reels, TikTok, YouTube Shorts, dan berbagai video singkat memungkinkan pengguna berpindah dari satu rangsangan ke rangsangan lain dengan cepat.

Namun, mengatakan bahwa video pendek otomatis membuat seseorang tidak sabar tentu terlalu jauh. Bukti ilmiah masih perlu dibaca dengan hati-hati.

Tinjauan sistematis yang terbit pada 2026 di European Child & Adolescent Psychiatry merangkum 42 studi dengan total 46.912 partisipan dan menemukan bahwa penggunaan video pendek yang berat dan tidak terstruktur berkaitan dengan peningkatan kecil hingga sedang pada inattention dan impulsivity, serta penurunan pada working memory dan self-regulation pada kelompok muda.

Sebagian besar studi yang ditinjau bersifat cross-sectional, sehingga penulis menekankan perlunya penelitian longitudinal dan eksperimental.

Ada pula penelitian dalam jurnal Topoi yang membahas media sosial sebagai “digital slot machines”. Penulis menjelaskan bagaimana platform dapat menggunakan sistem rekomendasi, rangsangan emosional, dan intermittent rewards untuk mempertahankan perhatian pengguna.

Ini membantu menjelaskan mengapa scrolling dapat terasa mudah dilakukan berulang kali: selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang menarik pada konten berikutnya.

Dari sini, persoalannya bukan apakah semua konten singkat harus dihindari. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa lingkungan dalam era digital memang menyediakan rangsangan dengan pergantian yang cepat.

Jika terbiasa terus-menerus berpindah, aktivitas yang menuntut perhatian lebih lama mungkin terasa kurang menarik.

Tidak Semua Hal dalam Hidup Bisa Mengikuti Kecepatan Internet

Di sinilah menurut saya letak persoalan yang paling menarik. Dalam era digital, teknologi dapat mempercepat banyak proses, tetapi tidak dapat membuat seluruh kehidupan mengikuti kecepatannya.

Kita bisa mendapatkan informasi dalam hitungan detik, tetapi memahami informasi membutuhkan waktu. Kita bisa menemukan tutorial keterampilan dalam satu pencarian, tetapi kemampuan tetap harus dibangun melalui latihan.

Kita dapat mengirim pesan kepada seseorang dengan cepat, tetapi membangun hubungan membutuhkan interaksi yang berlangsung terus-menerus.

Hal serupa berlaku dalam pekerjaan, pendidikan, membaca buku, maupun mengambil keputusan. Ada proses yang memang membutuhkan pengulangan, kesalahan, evaluasi, dan waktu sebelum hasilnya terlihat.

Karena itu, mungkin persoalannya bukan teknologi yang terlalu cepat. Persoalannya adalah ketika standar kecepatan dari teknologi kita bawa ke semua bagian kehidupan.

Kita berharap belajar memberikan hasil seperti pencarian Google, hubungan berkembang seperti percakapan instan, dan pekerjaan selesai seperti pesanan yang tinggal dilacak.

Padahal, sesuatu yang bernilai tidak selalu hadir dengan segera. Bahkan kemampuan untuk bertahan dalam proses yang belum memberikan hasil merupakan bagian dari pengendalian diri.

Kemampuan mengendalikan dorongan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tetap mengejar tujuan yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Baca Juga : Kampung Klasik Malang, Festival Warga yang Menghidupkan Budaya Jawa Timur

Mungkin Kita Tidak Perlu Mengurangi Kecepatan, Hanya Belajar Menunggu Lagi

Saya tidak melihat jawabannya sebagai ajakan untuk kembali ke kehidupan sebelum internet. Kecepatan memiliki manfaat yang nyata.

Teknologi membuat komunikasi lebih mudah, pekerjaan tertentu lebih efisien, dan akses informasi jauh lebih terbuka.

Yang mungkin perlu dikembalikan bukanlah kelambatan, melainkan kemampuan untuk menerima jeda.

Menunggu beberapa menit tidak selalu berarti membuang waktu. Membaca sampai selesai tidak selalu kalah menarik dibanding mendapatkan rangkuman.

Belajar secara bertahap tidak berarti tertinggal. Bahkan, tidak segera berpindah ke hiburan berikutnya dapat menjadi kesempatan untuk menyadari apakah kita memang membutuhkan rangsangan baru atau hanya sudah terbiasa mendapatkannya.

Pada akhirnya, era digital tidak harus menjadi musuh kesabaran. Justru, semakin cepat lingkungan di sekitar kita bergerak, semakin penting kemampuan untuk menentukan kapan harus mengikuti kecepatan tersebut dan kapan harus berhenti sejenak.

Sabar bukan berarti menolak kemajuan. Sabar adalah kemampuan menerima bahwa beberapa hal memang tidak bisa dipercepat, meskipun kita hidup dalam era digital yang hampir selalu menawarkan sesuatu secara instan.

Leave a Comment

Related Post