sekitarmalangraya – Scroll sering kali dimulai dari niat sederhana: membuka ponsel sebentar untuk melihat satu video, membaca kabar terbaru, atau sekadar mengisi waktu kosong.
Namun, satu konten kemudian membawa kita ke konten berikutnya hingga tanpa terasa waktu telah berlalu jauh lebih lama dari yang direncanakan.
Kebiasaan tersebut sebenarnya sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat digital. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 terhadap 8.700 responden di 38 provinsi mencatat 44,9% responden mengakses media sosial selama 1–2 jam per hari.
Sementara itu, 37,9% berada pada durasi 2–3 jam. Survei dilakukan pada 1 Februari hingga 15 Maret 2026 dengan metode multistage random sampling dan margin of error ±1,1%.
Angka tersebut tentu tidak otomatis berarti seluruh waktu penggunaan media sosial adalah waktu yang terbuang.
Media sosial juga menjadi tempat mencari informasi, berkomunikasi, belajar, bekerja, dan mendapatkan hiburan.
Persoalannya muncul ketika penggunaan dilakukan tanpa benar-benar menyadari berapa banyak waktu yang telah diberikan.
Scroll Sudah Menjadi Bagian dari Kebiasaan Sehari-hari
Scroll sangat mudah masuk ke sela-sela aktivitas. Menunggu kendaraan, mengantre, beristirahat setelah bekerja, duduk sendirian di kamar, bahkan beberapa menit sebelum tidur bisa menjadi kesempatan untuk membuka media sosial.
Kebiasaan tersebut juga terlihat pada Gen Z. Survei Jakpat yang dilakukan pada Desember 2025 terhadap 1.158 responden berusia 17–28 tahun dari seluruh Indonesia menunjukkan bahwa 63% Gen Z memilih scroll media sosial sebagai aktivitas ketika memiliki waktu luang.
Pilihan tersebut berada di atas menonton film atau serial sebesar 56%, mendengarkan musik atau podcast 53%, bermain gim 52%, serta membaca buku 30%.
Temuan itu memperlihatkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar tempat berkomunikasi. Bagi sebagian anak muda, platform digital telah menjadi salah satu ruang utama untuk mengisi waktu kosong.
Hal tersebut sebenarnya tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang selalu negatif. Hiburan tetap memiliki fungsi. Setelah menjalani aktivitas yang melelahkan, seseorang tentu membutuhkan waktu untuk bersantai.
Yang perlu dipertanyakan adalah apakah waktu tersebut benar-benar dipilih untuk beristirahat atau kita hanya mengikuti kebiasaan yang sudah terbentuk.
Baca Juga : Terlalu Banyak Pilihan Justru Bisa Membuat Kita Sulit Memilih
Ketika Scroll Dilakukan Tanpa Tujuan
Ada perbedaan antara membuka media sosial karena memiliki tujuan dengan membukanya karena tidak tahu harus melakukan apa.
Ketika seseorang ingin mencari informasi tertentu, melihat pesan, atau mengikuti kabar dari orang yang dikenalnya, aktivitas di media sosial mempunyai tujuan yang jelas.
Namun, situasinya berbeda ketika ponsel dibuka hanya karena merasa bosan, kemudian satu video dilanjutkan dengan video lain tanpa ada tujuan tertentu.
Pada kondisi seperti itu, scroll dapat berubah menjadi aktivitas otomatis. Satu konten selesai, konten berikutnya muncul, lalu perhatian kembali berpindah. Tidak ada batas yang secara alami mengatakan bahwa aktivitas tersebut harus berhenti.
RRI dalam pemberitaan September 2026 juga menggambarkan fenomena serupa. Niat awal untuk membuka media sosial sebentar dapat berakhir dengan penggunaan yang jauh lebih lama karena pengguna terus berpindah dari satu konten ke konten berikutnya.
RRI juga menekankan bahwa media sosial memiliki manfaat sebagai sumber informasi, pembelajaran, hiburan, dan ruang komunitas.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar berapa kali seseorang scroll. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah seseorang masih sadar mengapa ia membuka media sosial dan kapan sebenarnya ingin berhenti.
Waktu yang Hilang Sering Baru Disadari Setelah Berhenti Scroll
Salah satu hal menarik dari kebiasaan scroll adalah cara kita mempersepsikan waktu. Beberapa menit terasa singkat ketika diisi dengan video pendek yang terus berganti.
Namun, setelah ponsel diletakkan, barulah muncul kesadaran bahwa ternyata sudah setengah jam atau bahkan lebih.
Waktu tersebut sebenarnya tidak selalu sia-sia. Menonton video lucu, membaca unggahan menarik, atau mengikuti percakapan tertentu bisa menjadi bentuk hiburan yang memang kita butuhkan. Tidak semua kegiatan yang menghasilkan kesenangan harus dianggap tidak produktif.
Masalahnya muncul ketika durasi tersebut tidak lagi sesuai dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan.
Seseorang mungkin berniat beristirahat selama 10 menit sebelum mengerjakan tugas. Namun, jika akhirnya menghabiskan satu jam di media sosial, waktu untuk mengerjakan tugas ikut berkurang.
Begitu juga ketika seseorang ingin tidur lebih awal tetapi terus membuka konten baru karena merasa masih ingin melihat satu unggahan lagi.
Dengan demikian, persoalannya bukan hanya tentang kehilangan waktu, melainkan kehilangan kendali atas keputusan mengenai waktu tersebut.
Scroll Berlebihan Bisa Mengganggu Konsentrasi
Hubungan antara kebiasaan menggulir konten digital dan konsentrasi juga mulai menjadi perhatian penelitian.
Penelitian berjudul “Scroll Dulu, Belajar Nanti? Pengaruh Scroll Culture Terhadap Efektivitas Belajar Mahasiswa” yang diterbitkan dalam JAMBURA Guidance and Counseling Journal pada Mei 2026 melibatkan 158 mahasiswa aktif dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Penelitian tersebut secara khusus menganalisis faktor yang mendorong scroll culture serta kaitannya dengan konsentrasi, motivasi, dan produktivitas akademik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk menggulir media sosial. Penelitian tersebut juga menemukan indikasi penurunan konsentrasi dalam aktivitas akademik
Temuan ini tidak berarti setiap orang yang sering scroll pasti mengalami masalah konsentrasi. Penelitian tersebut memiliki populasi yang spesifik, yaitu mahasiswa yang menjadi responden survei, sehingga hasilnya tidak dapat begitu saja digeneralisasi kepada seluruh pengguna media sosial.
Namun, penelitian tersebut setidaknya memberikan alasan untuk melihat kebiasaan digital dengan lebih sadar.
Jika aktivitas di layar mulai mengambil ruang dari waktu belajar atau pekerjaan, kebiasaan tersebut layak dievaluasi.
Baca Juga : AI Makin Dipercaya, Tapi Haruskah Semua Jawaban Langsung Dipercaya?
Mungkin Kita Tidak Harus Berhenti Scroll, Hanya Perlu Lebih Sadar
Menghapus seluruh aplikasi media sosial bukan satu-satunya jawaban. Bagi banyak orang, media sosial sudah menjadi bagian dari komunikasi, pekerjaan, hiburan, dan pencarian informasi.
Yang mungkin lebih realistis adalah membangun kesadaran terhadap cara penggunaannya. Misalnya, membuka media sosial dengan tujuan yang lebih jelas, memperhatikan berapa lama sudah berada di dalam aplikasi, serta tidak selalu menjadikan ponsel sebagai respons otomatis ketika merasa bosan.
Memberikan jeda dari layar juga dapat membuka ruang untuk melakukan aktivitas lain yang sebelumnya tertunda.
Membaca beberapa halaman buku, berbicara dengan orang lain, berjalan sebentar, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar duduk tanpa membuka ponsel bisa menjadi pilihan ketika waktu luang datang.
Pada akhirnya, masalahnya bukan sekadar berapa lama kita scroll. Media sosial tidak harus dianggap sebagai musuh, dan waktu bersantai juga tidak perlu selalu dicurigai sebagai pemborosan.
Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa waktu yang kita berikan kepada layar tetap merupakan waktu kita sendiri.
Jika kita membuka ponsel karena memang ingin menggunakannya, kemudian berhenti ketika sudah merasa cukup, keputusan tersebut masih berada di tangan kita.
Tetapi jika satu konten terus membawa kita ke konten berikutnya tanpa pernah tahu kapan harus berhenti, mungkin sudah waktunya bertanya: sebenarnya kita sedang memilih untuk menggunakan waktu, atau hanya membiarkannya berlalu?









Leave a Comment