Dari Hobi Sepak Bola Jadi Bisnis, Bagaimana Toko Jersey Menghasilkan Cuan?

Mazaya Farandy

September 25, 2026

5
Min Read
Toko jersey kini tidak hanya menjadi tempat membeli pakaian sepak bola, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari bisnis yang memanfaatkan hobi, komunitas, dan momentum pertandingan.

sekitarmalangraya – Toko jersey kini tidak hanya menjadi tempat membeli pakaian sepak bola, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari bisnis yang memanfaatkan hobi, komunitas, dan momentum pertandingan.

Perkembangan permintaan jersey pada 2026 menunjukkan bahwa produk ini memiliki pasar yang berkaitan erat dengan budaya olahraga dan perilaku konsumen.

Bagi pelaku usaha, peluang tersebut tidak selalu dimulai dari skala besar. Ada bisnis yang tumbuh dari kegemaran mengoleksi jersey, sementara lainnya berawal dari kebutuhan komunitas olahraga.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan terhadap produk dan kedekatan dengan konsumen dapat menjadi bagian penting dalam membangun usaha.

Toko Jersey Bisa Berawal dari Hobi Mengoleksi

Salah satu contoh datang dari Septo Riza, pemilik Jakarta Football Shop. Berdasarkan laporan kumparanBISNIS, Septo mulai mengoleksi jersey sepak bola sejak 1996 sebelum membuka bisnis Jakarta Football Shop pada 2011.

Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman sebagai kolektor dapat menjadi pengetahuan yang berguna ketika masuk ke dunia usaha.

Pemilik toko memahami karakter produk, model yang dicari, hingga ketertarikan konsumen terhadap jersey tertentu.

Pada tahap awal, bisnis Septo juga sempat dijalankan melalui toko daring atau marketplace. Seiring waktu, ia kemudian berfokus pada toko fisik di Senayan Trade Center, Jakarta. Produk yang ditawarkan mencakup jersey original, jersey musim terkini, dan jersey vintage.

Model tersebut memperlihatkan bahwa toko jersey dapat tumbuh dari kombinasi antara minat pribadi dan pemahaman terhadap pasar.

Namun, pengalaman saja tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberlangsungan bisnis.

Baca Juga : Dari Keripik hingga Sambal, UMKM Malang Mulai Tembus Pasar Ekspor

Toko Jersey Tidak Hanya Menjual Produk Utama

Nilai bisnis jersey juga dapat diperluas melalui layanan yang mengikuti kebutuhan konsumen. Jakarta Football Shop, misalnya, tidak hanya menjual jersey, tetapi juga menyediakan name set sehingga pembeli dapat mencetak nama sendiri atau nama pemain idola pada jersey.

Layanan personalisasi membuat produk tidak berhenti sebagai pakaian olahraga. Bagi konsumen tertentu, nama dan nomor pada bagian belakang jersey dapat membuat produk terasa lebih personal dan berkaitan dengan pemain atau tim yang mereka sukai.

Model serupa juga terlihat pada Ngalam Jersey di Malang. Berdasarkan situs resminya, usaha tersebut menyediakan jersey ready stock dan custom, termasuk jersey pendek, jersey panjang, polo jersey, jersey anak, sablon, serta full print.

Bagi pelaku usaha, variasi produk dan layanan dapat membantu menjangkau kebutuhan konsumen yang berbeda. Ada pembeli yang mencari jersey siap pakai, sementara kelompok olahraga atau komunitas dapat membutuhkan desain khusus dalam jumlah tertentu.

Kondisi tersebut membuat toko jersey tidak harus hanya mengandalkan penjualan produk klub atau tim nasional.

Layanan custom dapat menjadi bagian lain dari model bisnis karena konsumen memiliki kebutuhan yang berbeda berdasarkan tujuan pembelian.

Pasar Jersey Dapat Menjangkau Komunitas dan Konsumen yang Beragam

Bisnis jersey juga tidak terbatas pada suporter sepak bola. Pengalaman Speed Jersey yang diberitakan KONTAN memperlihatkan bagaimana kebutuhan jersey dapat berkembang dari komunitas olahraga.

Speed Jersey berawal ketika pendirinya membuat jersey untuk komunitas sepeda. Respons positif kemudian membuat pesanan berkembang hingga ke perusahaan.

Ketika menghadapi perubahan kondisi bisnis pada masa pandemi, perusahaan tersebut memperluas sasaran dari pasar business to business atau B2B ke business to consumer atau B2C.

Perubahan target pasar tersebut menunjukkan bahwa produk jersey dapat memiliki berbagai kelompok konsumen.

Selain suporter, produknya dapat digunakan komunitas, perusahaan, tim olahraga, hingga konsumen yang membutuhkan pakaian dengan desain tertentu.

Speed Jersey juga memanfaatkan situs belanja dan media sosial sebagai bagian dari pemasaran. Produk yang ditawarkan kemudian berkembang tidak hanya berupa jersey, tetapi juga jaket, celana, topi, dan rompi sesuai permintaan pelanggan.

Bagi toko jersey, keberagaman kebutuhan tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan produk dan layanan.

Semakin jelas kelompok konsumen yang dituju, semakin mudah pula usaha menyesuaikan desain, produksi, dan saluran pemasarannya.

Kompetisi Besar Dapat Mendorong Permintaan Jersey

Momentum pertandingan besar menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penjualan. Data Bisnis.com pada Piala Dunia 2026 menunjukkan adanya peningkatan permintaan jersey di sejumlah pelaku usaha.

Eleven Football mencatat penjualan jersey pada Juni 2026 meningkat sekitar 35% dibandingkan Mei.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, pertumbuhannya disebut mencapai sekitar 84%. Jersey juga menjadi kontributor utama penjualan perusahaan tersebut dengan porsi lebih dari 77%.

Bisnis.com juga melaporkan Jakarta Football Shop mengalami kenaikan penjualan sekitar dua kali lipat selama Piala Dunia 2026. Menurut pemiliknya, permintaan dapat berubah mengikuti perjalanan sebuah tim dalam turnamen.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bisnis jersey memiliki hubungan dengan momentum olahraga. Ketika sebuah tim atau pemain menjadi sorotan, minat konsumen dapat ikut berubah.

Pembelian juga tidak selalu dilakukan oleh kolektor, tetapi dapat muncul karena konsumen ingin ikut merasakan suasana kompetisi.

Namun, peningkatan penjualan saat turnamen tidak otomatis berarti permintaan akan selalu tinggi. Setelah kompetisi berakhir, pola belanja dapat berubah.

Karena itu, pelaku usaha perlu mempertimbangkan keberlanjutan penjualan di luar periode pertandingan besar.

Baca Juga : Freeport Gelontorkan Rp72 Triliun untuk Proyek Kucing Liar

Toko Jersey Perlu Membaca Tren dan Menjaga Pasar

Keberlangsungan bisnis jersey tidak hanya bergantung pada popularitas sepak bola. Pelaku usaha juga perlu membaca kebutuhan konsumen, menyediakan pilihan produk, dan menggunakan saluran pemasaran yang sesuai.

Kisah Jakarta Football Shop memperlihatkan pentingnya memahami pasar kolektor dan penggemar, termasuk menyediakan jersey original, vintage, serta layanan name set.

Sementara itu, pengalaman Speed Jersey menunjukkan bahwa pasar dapat diperluas melalui komunitas, perusahaan, ritel, dan pemasaran digital.

Bagi toko jersey lokal, keberadaan layanan custom juga dapat membuka pasar yang berbeda dari penjualan jersey klub.

Ngalam Jersey, misalnya, menampilkan layanan ready stock dan custom melalui situs resminya. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan jersey dapat muncul dari konsumen individu maupun kelompok yang membutuhkan desain tertentu.

Pada akhirnya, bisnis jersey memiliki ruang ekonomi yang terbentuk dari pertemuan antara hobi, komunitas, kebutuhan personalisasi, dan momentum olahraga.

Pertumbuhan penjualan ketika Piala Dunia 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana peristiwa olahraga dapat menciptakan perubahan permintaan dalam waktu tertentu.

Namun, peluang tersebut tetap perlu dilihat secara realistis. Toko jersey tidak hanya membutuhkan produk yang diminati, tetapi juga kemampuan menjaga kualitas, memahami konsumen, memilih saluran pemasaran, dan mencari pasar di luar momentum kompetisi.

Dengan demikian, perjalanan sebuah toko jersey dari hobi menjadi usaha menunjukkan bahwa kedekatan dengan komunitas dapat menjadi pintu masuk bisnis.

Ketika pengetahuan tentang produk dipadukan dengan kemampuan membaca kebutuhan konsumen, jersey tidak hanya berfungsi sebagai pakaian olahraga, tetapi juga dapat menjadi produk koleksi, identitas komunitas, dan bagian dari aktivitas ekonomi.

Leave a Comment

Related Post