sekitarmalangraya – FOMO kerap membuat anak muda merasa tertinggal ketika melihat orang lain menjalani kehidupan yang tampak lebih menyenangkan.
Mulai dari membeli barang yang sedang viral, mendatangi tempat wisata populer, mengikuti olahraga baru, hingga menghadiri konser, berbagai tren seolah menjadi hal yang harus dicoba agar tidak kehilangan momen.
Padahal, mengikuti semua hal yang sedang populer bukanlah ukuran kebahagiaan. Setiap orang memiliki kebutuhan, kemampuan, dan prioritas berbeda sehingga tidak semua tren harus diikuti.
Fenomena tersebut semakin mudah ditemukan di tengah penggunaan media sosial. Seseorang dapat melihat pencapaian, aktivitas, dan pengalaman orang lain hanya dengan membuka layar ponsel.
Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang ditampilkan orang lain bisa menimbulkan perasaan kurang puas.
Persoalannya bukan sekadar mengikuti tren, melainkan ketika keputusan hidup lebih banyak ditentukan oleh rasa takut tertinggal daripada pertimbangan pribadi.
Menurut saya, anak muda perlu memahami bahwa kehidupan bukan perlombaan untuk mencoba semua hal yang sedang ramai diperbincangkan.
Keinginan mengikuti tren memang wajar, tetapi jika terus dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan, seseorang justru berisiko kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupannya sendiri.
Mengenal FOMO dan Alasan Anak Muda Takut Tertinggal
FOMO merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu perasaan khawatir ketika seseorang menganggap orang lain sedang menikmati pengalaman menarik atau berharga tanpa melibatkan dirinya.
Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang terus mencari informasi tentang aktivitas orang lain, terutama melalui media sosial.
Dalam penelitian yang diterbitkan JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia pada 2025, peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengkaji hubungan kecemasan sosial dan harga diri dengan FOMO.
Penelitian tersebut melibatkan 130 remaja berusia 12–19 tahun di Surabaya. Hasilnya menunjukkan bahwa kecemasan sosial memiliki hubungan positif yang signifikan dengan FOMO, sedangkan harga diri memiliki hubungan negatif yang signifikan.
Artinya, kecemasan sosial yang lebih tinggi berkaitan dengan FOMO yang lebih tinggi, sementara harga diri yang lebih rendah juga berkaitan dengan kondisi tersebut.
Temuan itu memperlihatkan bahwa rasa takut tertinggal tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar membutuhkan sesuatu.
Ada kemungkinan dorongan tersebut berkaitan dengan keinginan untuk diterima, diakui, atau tetap dianggap menjadi bagian dari lingkungan sosialnya.
Seseorang mungkin membeli barang tertentu bukan karena menyukainya, tetapi karena khawatir dianggap tidak mengikuti perkembangan.
Meski demikian, hasil penelitian terhadap 130 remaja di Surabaya tidak dapat langsung mewakili seluruh anak muda Indonesia.
Penelitian tersebut memberikan gambaran tentang hubungan beberapa faktor psikologis dengan FOMO pada kelompok responden yang diteliti.
Hal ini menunjukkan bahwa dorongan mengikuti orang lain juga perlu dipahami dari sisi kondisi psikologis dan kebutuhan seseorang untuk memperoleh penerimaan sosial.
Baca Juga : Diskon dan Promo Terus Bermunculan, Apakah Kita Benar-Benar Membeli Sesuai Kebutuhan?
Media Sosial Membuat Kehidupan Orang Lain Terlihat Lebih Menarik
Media sosial memungkinkan penggunanya membagikan berbagai pengalaman, mulai dari liburan, pencapaian pekerjaan, kehidupan pertemanan, hingga barang baru yang dimiliki.
Namun, unggahan yang muncul biasanya merupakan bagian kehidupan yang dipilih untuk ditampilkan. Tidak semua kesulitan, kegagalan, atau masalah pribadi ikut diperlihatkan.
Di sinilah perbandingan sosial dapat menjadi persoalan. Ketika seseorang terus melihat momen terbaik orang lain, kehidupan pribadinya mungkin terasa kurang menarik.
Liburan orang lain terlihat lebih menyenangkan, pencapaian teman tampak lebih cepat, sedangkan aktivitas sehari-hari sendiri dianggap biasa saja.
Penelitian Wardah dan Harlianty yang diterbitkan dalam Nusantara Journal of Behavioral and Social Science pada Juni 2026 memberikan gambaran mengenai fenomena tersebut.
Studi terhadap 400 responden berusia 18–40 tahun di Indonesia melaporkan bahwa 71,5% responden masuk kategori FOMO tinggi berdasarkan pengukuran penelitian.
Penelitian itu menggunakan convenience sampling, sehingga hasilnya tidak bisa dianggap mewakili seluruh populasi anak muda Indonesia.
Studi tersebut juga membahas keterkaitan penggunaan media sosial dan partisipasi dalam tren viral. Temuan ini dapat menjadi bahan refleksi bahwa paparan aktivitas orang lain berpotensi memengaruhi cara seseorang menilai kehidupannya sendiri.
Namun, angka penelitian tersebut sebaiknya dipahami sesuai karakteristik responden, bukan dijadikan kesimpulan bahwa sebagian besar anak muda Indonesia pasti mengalami FOMO.
Menurut saya, media sosial seharusnya menjadi sarana untuk mendapatkan informasi dan hiburan, bukan tempat menentukan apakah kehidupan seseorang sudah cukup menarik.
Mengukur kebahagiaan berdasarkan unggahan orang lain hanya akan membuat seseorang terus mengejar standar yang belum tentu sesuai dengan kehidupannya.
Dorongan Mengikuti Tren Bisa Mengaburkan Keinginan Pribadi
Mengikuti tren sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Mencoba makanan populer, menonton film yang sedang ramai dibicarakan, atau mengikuti kegiatan olahraga baru bisa menjadi pengalaman menyenangkan.
Tren bahkan dapat membuka kesempatan untuk bertemu orang baru dan menemukan minat yang sebelumnya belum diketahui.
Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi mampu membedakan keinginan pribadi dengan tekanan lingkungan.
Ia merasa harus membeli produk tertentu karena banyak teman memilikinya, datang ke tempat populer karena takut tidak punya bahan percakapan, atau mengikuti aktivitas tertentu agar tetap dianggap relevan.
Dalam kondisi seperti itu, FOMO berpotensi memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Pertimbangan mengenai harga, waktu, manfaat, dan kebutuhan dapat tersisih oleh dorongan untuk segera ikut.
Misalnya, seseorang membeli barang yang sedang viral meskipun anggaran bulanannya terbatas. Setelah tren mereda, barang tersebut mungkin jarang digunakan dan justru menjadi pengeluaran yang disesali.
Penelitian Wardah dan Harlianty juga membahas contoh keterlibatan orang dewasa muda dalam tren, termasuk pembelian koleksi dan mengikuti aktivitas olahraga yang populer di lingkungan pertemanan.
Hal tersebut memberikan gambaran bahwa partisipasi dalam tren tidak selalu didasarkan pada ketertarikan pribadi, tetapi juga dapat berkaitan dengan keinginan untuk tetap terhubung dengan kelompok sosial.
Karena itu, penting untuk bertanya kepada diri sendiri sebelum mengikuti sesuatu: apakah memang menyukainya, membutuhkannya, atau hanya takut dianggap tertinggal?
Menurut saya, kemampuan membedakan ketiga hal tersebut merupakan bagian penting dari kedewasaan dalam mengambil keputusan.
Seseorang tidak harus membuktikan bahwa dirinya mampu mengikuti semua tren hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
FOMO Berisiko Mengganggu Ketenangan dan Kepuasan Hidup
Ketika perhatian terus tertuju pada kehidupan orang lain, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk menikmati pengalaman yang sedang dijalani.
Waktu luang yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru habis untuk memeriksa unggahan terbaru. Bahkan, kegiatan yang sebenarnya menyenangkan dapat terasa kurang berarti karena pikiran sibuk membandingkannya dengan pengalaman orang lain.
FOMO juga dapat membuat seseorang sulit merasa cukup. Setelah berhasil mengikuti satu tren, selalu ada tren lain yang muncul dan kembali memunculkan dorongan untuk ikut.
Akibatnya, kepuasan menjadi mudah bergantung pada hal-hal yang berada di luar kendali pribadi, seperti popularitas, pengakuan sosial, atau apa yang sedang dimiliki orang lain.
Kondisi tersebut patut diperhatikan karena kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat membuat seseorang kurang menghargai pencapaiannya sendiri.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Seseorang yang belum mampu membeli barang populer atau mengunjungi tempat wisata tertentu bukan berarti kehidupannya kurang berhasil dibandingkan orang lain.
Penelitian Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengenai hubungan kecemasan sosial, harga diri, dan FOMO pada remaja juga memperlihatkan pentingnya penerimaan diri dalam menghadapi tekanan sosial.
Namun, FOMO tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Jika kecemasan atau dorongan tersebut sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Menurut saya, kehidupan tidak seharusnya menjadi perlombaan untuk membuktikan bahwa seseorang sudah mencoba semua hal yang sedang populer.
Setiap orang memiliki kondisi ekonomi, kesempatan, tanggung jawab, dan tujuan yang berbeda. Membandingkan semuanya hanya berdasarkan unggahan media sosial jelas tidak memberikan gambaran yang utuh.
Kebahagiaan seharusnya tidak bergantung pada seberapa banyak tren yang berhasil diikuti, tetapi juga pada kemampuan seseorang menghargai apa yang sudah dimilikinya.
Baca Juga : AI Companion dan Kesepian, Apakah Teman Virtual Bisa Menggantikan Hubungan Manusia?
Belajar Menentukan Prioritas agar Tidak Terjebak FOMO
Mengurangi FOMO bukan berarti harus menjauh sepenuhnya dari media sosial atau menolak semua tren. Langkah pertama justru dimulai dengan memahami prioritas pribadi.
Seseorang perlu mengetahui apa yang benar-benar penting baginya, baik dalam hal keuangan, pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, maupun waktu istirahat.
Membatasi waktu menggunakan media sosial juga dapat membantu. Kebiasaan membuka aplikasi berulang kali untuk memeriksa aktivitas orang lain bisa dikurangi dengan menentukan waktu khusus untuk mengaksesnya.
Selain itu, mengikuti akun yang memberikan informasi bermanfaat dan mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan dapat menjadi pilihan.
Dalam urusan keuangan, keputusan membeli sesuatu sebaiknya tetap disesuaikan dengan anggaran. Barang yang sedang populer tidak otomatis menjadi kebutuhan.
Begitu pula dengan kegiatan sosial. Seseorang berhak menolak ajakan jika kegiatan tersebut tidak sesuai dengan kondisi, waktu, atau minatnya.
Menurut saya, anak muda juga perlu membiasakan diri untuk tidak merasa bersalah ketika melewatkan suatu tren. Tidak semua kesempatan harus diambil dan tidak semua pengalaman harus dimiliki.
Ada kalanya memilih untuk tidak ikut justru menjadi keputusan yang lebih bijak karena seseorang dapat menggunakan waktu, tenaga, dan uangnya untuk hal yang lebih sesuai dengan tujuan hidup.
Pada akhirnya, FOMO mengingatkan bahwa kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosial merupakan hal yang manusiawi.
Namun, penerimaan tidak harus diperoleh dengan mengikuti semua hal yang dilakukan orang lain. Anak muda tetap bisa menikmati tren tanpa kehilangan kendali atas pilihannya sendiri.
Hidup yang menyenangkan bukan tentang siapa yang paling cepat mencoba sesuatu atau paling sering mengunggah pengalaman.
Justru, kemampuan menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan dan nilai pribadi dapat membuat seseorang lebih tenang dalam menjalani kehidupannya.
Tidak mengikuti satu tren bukan berarti kehilangan kesempatan untuk bahagia. Bisa jadi, keputusan tersebut merupakan cara untuk memberi ruang bagi hal-hal yang memang lebih berarti.









Leave a Comment