sekitarmalangraya – Science Film Festival menjadi salah satu cara mengenalkan sains dan kecerdasan buatan (AI) kepada pelajar melalui pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini terlihat dalam kegiatan di MAN 2 Kota Malang pada 20 Oktober 2026, ketika film edukatif dipadukan dengan eksperimen sederhana agar peserta tidak hanya menonton, tetapi juga mengamati dan mencoba.
Kegiatan tersebut diikuti 76 peserta dan berlangsung di laboratorium sains serta auditorium lantai empat sekolah. Dua film yang diputar membahas perlindungan iklim di dunia digital dan penggunaan ChatGPT di kelas.
Peserta juga mengikuti eksperimen Solar Bottle Light dan Test Case Predict. Rangkaian kegiatan ini memberi gambaran tentang bagaimana pembelajaran dapat memadukan cerita visual, praktik, dan diskusi teknologi.
Science Film Festival Hadirkan Pengalaman Belajar Sains di Malang
MAN 2 Kota Malang menggelar Science Film Festival pada Selasa, 20 Oktober 2026, melalui Language Development Center (LDC) yang difasilitasi Deutsch in Man atau Klub Bahasa Jerman.
Menurut informasi resmi sekolah, rangkaian acara berlangsung mulai pukul 13.30 WIB dan melibatkan 76 peserta. Film sains dan eksperimen sederhana menjadi bagian utama kegiatan tersebut.
Pendekatan ini memberi kesempatan kepada pelajar untuk mengenal konsep sains melalui media yang berbeda dari penjelasan tertulis. Setelah menonton, siswa dapat mendiskusikan apa yang mereka pahami, bagian yang belum jelas, dan pertanyaan yang muncul.
Namun, film edukatif tidak otomatis menjamin materi dipahami dengan baik. Hasilnya bergantung pada kesesuaian isi dengan usia peserta, kualitas penjelasan, serta pendampingan guru.
Karena itu, Science Film Festival akan lebih bermakna jika tayangan tidak berhenti sebagai hiburan, melainkan menjadi pemantik untuk bertanya dan mencari penjelasan berdasarkan bukti.
Baca Juga : Lulusan Sekolah Vokasi Dituntut Siap Kerja, Apakah Praktik Sudah Sesuai Kebutuhan Industri?
Film Edukasi Mengenalkan Peluang dan Tantangan Penggunaan AI
Dua film yang ditayangkan di MAN 2 Kota Malang adalah Nine and a Half: Protecting the Climate in the Digital World dan Nine and a Half: ChatGPT in the Classroom.
Materi pertama mengangkat kaitan dunia digital dan perlindungan iklim, sedangkan film kedua membahas penggunaan ChatGPT di ruang belajar.
Pengenalan AI di sekolah penting bukan hanya agar siswa mengetahui nama atau cara menggunakan sebuah aplikasi.
Mereka juga perlu memahami bahwa jawaban yang dihasilkan sistem AI dapat keliru, tidak lengkap, atau menyajikan informasi yang perlu diperiksa kembali.
Ketika menggunakan chatbot untuk belajar, siswa sebaiknya membandingkan jawaban dengan buku, materi guru, atau sumber tepercaya dan tidak langsung menganggap keluaran AI sebagai fakta.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada pembukaan Science Film Festival 2026 di Jakarta juga menekankan penggunaan AI secara bijak dan bertanggung jawab.
Festival nasional yang diinisiasi Goethe-Institut tersebut berlangsung secara hibrida pada 6 Oktober hingga 14 November 2026, dengan jangkauan yang dilaporkan meliputi pelajar di 70 kabupaten/kota.
Dalam keterangannya, kementerian menyoroti pentingnya berpikir kritis, mengingat AI dapat membantu pembelajaran tetapi juga menghasilkan informasi keliru atau dimanfaatkan untuk manipulasi.
Dengan demikian, pembahasan AI dalam Science Film Festival sebaiknya tidak hanya menunjukkan manfaat teknologi.
Pelajar juga perlu diajak menimbang privasi, keakuratan informasi, keadilan, serta kapan bantuan AI tepat digunakan dan kapan mereka harus menyelesaikan tugas dengan pemahaman sendiri.
Eksperimen Membantu Siswa Menghubungkan Teori dengan Praktik
Selain menonton film, peserta mengikuti dua kegiatan praktik, yakni Solar Bottle Light untuk mempelajari intensitas cahaya dan Test Case Predict yang berkaitan dengan prediksi hasil AI.
Informasi sekolah menyebut kedua eksperimen tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar yang dirancang agar peserta terlibat secara langsung.
Eksperimen sederhana memberi kesempatan kepada siswa untuk mengamati proses, membuat dugaan, menguji, lalu membahas hasilnya.
Pada kegiatan yang berkaitan dengan cahaya, guru dapat membantu siswa mengidentifikasi variabel yang diamati dan menjelaskan mengapa kondisi tertentu dapat memengaruhi hasil.
Sementara itu, kegiatan Test Case Predict dapat menjadi pintu masuk untuk membahas prediksi berbasis AI. Siswa dapat diajak membedakan antara perkiraan, hasil pengamatan, dan kepastian.
Prediksi bukan jaminan bahwa sesuatu akan terjadi, sehingga hasilnya perlu dibandingkan dengan data dan diperiksa keterbatasannya. Prinsip ini relevan dalam pembelajaran sains maupun saat menggunakan teknologi digital.
Praktik langsung juga membuka ruang kolaborasi. Siswa dapat membagi tugas, menyampaikan hasil pengamatan, dan membandingkan penjelasan dengan kelompok lain.
Meski begitu, kegiatan satu kali belum cukup untuk membuktikan adanya peningkatan hasil belajar. Manfaat jangka panjang perlu dinilai melalui tindak lanjut, seperti diskusi kelas, laporan eksperimen, atau kemampuan siswa menjelaskan kembali konsep yang dipelajari.
Literasi Sains Membutuhkan Rasa Ingin Tahu dan Berpikir Kritis
Literasi sains bukan sekadar mengingat istilah atau rumus. Siswa perlu belajar mengajukan pertanyaan, menilai bukti, memahami cara suatu kesimpulan diperoleh, serta menyadari batas pengetahuan yang tersedia.
Film dan eksperimen dapat menjadi pemantik untuk melatih kebiasaan tersebut, selama guru menyediakan ruang untuk berdiskusi dan menguji pemahaman.
Dalam konteks AI, berpikir kritis semakin dibutuhkan karena informasi dapat disajikan dengan bahasa yang meyakinkan meskipun belum tentu benar.
Pelajar dapat berlatih memeriksa sumber, mencari pembanding, dan mengidentifikasi perbedaan antara fakta, opini, dan prediksi.
Science Film Festival tingkat nasional mengangkat tema yang relevan dengan tantangan itu. Kementerian juga mendorong agar pertanyaan yang muncul selama festival dibawa kembali ke sekolah untuk didiskusikan, dicoba, dan dibagikan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa acara edukasi dapat menjadi titik awal pembelajaran lanjutan, bukan tujuan akhir.
Baca Juga : Hampir 4 Juta Anak Tidak Sekolah di Indonesia, Ini Data dan Upaya Penanganannya
Pembelajaran Kreatif Dapat Menjadi Pelengkap Kegiatan di Kelas
Pengalaman di MAN 2 Kota Malang memperlihatkan salah satu pilihan untuk membuat pembelajaran sains lebih beragam.
Film memberi konteks, eksperimen menghadirkan kesempatan mengamati, sedangkan diskusi membantu siswa menyusun pemahaman.
Ketiganya dapat saling melengkapi dengan pembelajaran reguler, bukan menggantikan penjelasan guru, buku, praktikum terstruktur, atau proses membaca sumber tepercaya.
Agar kegiatan sejenis berkelanjutan, sekolah dapat menyiapkan pertanyaan panduan sebelum pemutaran film dan tugas refleksi sesudahnya.
Guru dapat meminta siswa menuliskan satu hal yang mereka pelajari, satu pertanyaan yang belum terjawab, serta bukti yang dibutuhkan untuk memeriksa klaim dalam tayangan.
Untuk materi AI, siswa dapat diminta mengecek satu jawaban chatbot menggunakan sumber lain dan menjelaskan bagian yang perlu dikoreksi.
Pendekatan itu juga perlu memperhatikan akses dan keselamatan. Eksperimen harus disesuaikan dengan fasilitas, usia peserta, serta petunjuk yang aman.
Penggunaan perangkat digital harus disertai pengingat tentang privasi dan etika. Dengan persiapan tersebut, sekolah dapat menghubungkan sains dengan persoalan sehari-hari tanpa mengorbankan ketelitian.
Pada akhirnya, nilai utama kegiatan seperti ini bukan sekadar menghadirkan film yang menarik atau teknologi terbaru, melainkan mendorong siswa bertanya dan memeriksa jawaban.
Science Film Festival di MAN 2 Kota Malang telah menghadirkan film dan eksperimen kepada 76 peserta. Seberapa jauh pengalaman itu memengaruhi pemahaman mereka masih memerlukan evaluasi lanjutan, tetapi formatnya dapat menjadi awal untuk membangun rasa ingin tahu, literasi sains, dan sikap kritis terhadap AI.









Leave a Comment