sekitarmalangraya – Peluang kerja bagi anak muda seharusnya tidak hanya ditentukan oleh pengalaman yang tercantum dalam daftar riwayat hidup, tetapi juga oleh kesempatan untuk membuktikan kemampuan.
Pengalaman memang penting, tetapi bagaimana seseorang bisa mendapatkannya jika kesempatan pertama untuk bekerja sulit diperoleh?
Banyak pencari kerja pemula menghadapi dilema ketika perusahaan meminta pengalaman untuk posisi tingkat awal.
Mereka membutuhkan pekerjaan agar bisa membangun pengalaman profesional, sementara pengalaman tersebut justru kerap menjadi salah satu persyaratan untuk diterima.
Persoalan ini tidak cukup diselesaikan dengan meminta anak muda meningkatkan keterampilan. Hubungan antara pendidikan dan industri, proses rekrutmen, serta ketersediaan pekerjaan bagi pemula juga perlu diperhatikan.
Menurut saya, peluang kerja yang lebih terbuka membutuhkan tanggung jawab bersama, bukan tuntutan sepihak kepada pencari kerja.
Peluang Kerja bagi Anak Muda Masih Menghadapi Tantangan
Tingginya pengangguran usia muda memperlihatkan bahwa peralihan dari pendidikan menuju dunia kerja masih menjadi persoalan.
ANTARA pada 2 September 2026 melaporkan pernyataan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli bahwa tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15–24 tahun mencapai 17,4%.
Pada saat yang sama, sekitar 48% perusahaan di Indonesia dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai.
Data tersebut menunjukkan adanya dua persoalan yang perlu dilihat secara bersamaan. Sebagian anak muda kesulitan memperoleh pekerjaan, sedangkan perusahaan mengaku belum mudah menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kondisi ini dapat mengindikasikan ketidaksesuaian antara keterampilan pencari kerja dan kompetensi yang dibutuhkan industri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) untuk 2025 juga menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka mencapai 23,34% pada kelompok usia 15–19 tahun dan 14,35% pada kelompok usia 20–24 tahun.
Angka tersebut merupakan data tahunan 2025, sehingga perlu dibedakan dari angka kelompok usia 15–24 tahun yang diberitakan pada September 2026.
Angka pengangguran tidak berarti semua anak muda mengalami kesulitan yang sama. Latar belakang pendidikan, lokasi tempat tinggal, bidang pekerjaan, dan pengalaman dapat memengaruhi kesempatan seseorang memasuki dunia kerja.
Namun, data tersebut menjadi pengingat bahwa menyelesaikan pendidikan belum otomatis membuat seseorang mendapatkan pekerjaan.
Menurut saya, pembahasan tentang peluang kerja perlu bergerak lebih jauh dari pertanyaan apakah anak muda sudah siap bekerja.
Kita juga perlu mempertanyakan apakah tersedia cukup banyak posisi pemula yang memungkinkan mereka belajar sambil bekerja.
Kesiapan individu memang penting, tetapi kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan juga menentukan.
Baca Juga : Tips Mengatasi Doomscrolling agar Waktu Bermain Media Sosial Lebih Terkontrol
Syarat Pengalaman Kerja Menjadi Tantangan bagi Lulusan Baru
Salah satu hambatan yang dapat dihadapi pencari kerja pemula adalah persyaratan pengalaman pada lowongan tingkat awal. Tidak semua perusahaan menerapkan ketentuan yang sama.
Namun, ketika posisi yang ditujukan bagi pemula meminta pengalaman profesional sebelumnya, pelamar dapat menghadapi dilema yang sulit diatasi.
Lulusan baru mungkin memiliki pengetahuan akademis, pengalaman mengerjakan proyek kelompok, keterlibatan dalam organisasi, atau hasil praktik selama pendidikan.
Akan tetapi, pengalaman tersebut terkadang dianggap belum setara dengan pengalaman profesional. Akibatnya, mereka harus bersaing dengan kandidat yang sudah pernah bekerja, meskipun posisi yang dilamar berada pada tingkat awal.
Perusahaan tentu memiliki alasan untuk mencari kandidat yang dapat segera beradaptasi. Pengalaman dapat membantu perekrut menilai kemampuan menyelesaikan tugas, berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan menghadapi masalah.
Untuk pekerjaan tertentu, pengalaman juga berkaitan dengan keselamatan, ketelitian, atau tanggung jawab yang membutuhkan persiapan khusus.
Meski demikian, kebutuhan tersebut tidak berarti semua pekerjaan harus mensyaratkan pengalaman sebelumnya.
Untuk posisi yang kompetensinya dapat dikembangkan melalui pelatihan, perusahaan dapat mempertimbangkan kemampuan dasar, portofolio, potensi belajar, dan sikap profesional kandidat.
Pengalaman pun tidak selalu harus berasal dari pekerjaan formal. Proyek mandiri, kegiatan organisasi, magang, karya yang dapat diperiksa, dan kegiatan sukarela bisa menjadi bahan pertimbangan selama relevan dengan pekerjaan yang dilamar.
Perekrut juga perlu menjelaskan pengalaman seperti apa yang benar-benar dibutuhkan agar pelamar dapat menilai kesesuaian dirinya secara lebih tepat.
Di sinilah peluang kerja bagi lulusan baru perlu dirancang dengan lebih terbuka. Pengalaman seharusnya menjadi salah satu cara menilai kesiapan, bukan penghalang otomatis bagi orang yang belum pernah memperoleh kesempatan profesional.
Pada saat yang sama, keterbukaan rekrutmen tetap perlu disertai penilaian yang wajar terhadap kemampuan dasar kandidat.
Kesenjangan Keterampilan Tidak Bisa Dibebankan kepada Pencari Kerja
Ketika perusahaan mengeluhkan kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang sesuai, salah satu solusi yang sering disampaikan adalah meminta anak muda meningkatkan keterampilan.
Saran tersebut masuk akal, tetapi menjadi tidak lengkap apabila seluruh tanggung jawab dibebankan kepada pencari kerja.
Kebutuhan industri dapat berubah mengikuti perkembangan teknologi, metode produksi, dan cara perusahaan memberikan layanan.
Sementara itu, lembaga pendidikan memiliki kurikulum dan sumber daya yang perlu dikelola sebelum pembelajaran dapat diperbarui.
Kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri pun tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan meminta lulusan mengikuti lebih banyak pelatihan.
Kajian Bappenas berjudul Outlook Ketenagakerjaan Indonesia 2026–2029: Dari Bonus Demografi ke Tantangan Kualitas Pekerjaan menyoroti persoalan kualitas pekerjaan, dominasi sektor informal, dan pentingnya peningkatan produktivitas.
Hal ini memperlihatkan bahwa tantangan ketenagakerjaan tidak berhenti pada jumlah orang yang memperoleh pekerjaan, tetapi juga mencakup mutu pekerjaan yang tersedia.
Karena itu, hubungan antara lembaga pendidikan dan dunia usaha perlu dibuat lebih nyata. Perusahaan dapat menyampaikan kompetensi yang dibutuhkan, menyediakan proyek praktik, atau terlibat dalam penyusunan materi pelatihan.
Lembaga pendidikan kemudian dapat menggunakan masukan tersebut untuk memperkuat pembelajaran tanpa mengabaikan pengetahuan dasar dan kemampuan berpikir kritis.
Pemerintah juga berperan dalam mempertemukan kebutuhan industri dengan program pelatihan yang relevan.
Pelatihan akan lebih bermanfaat apabila didasarkan pada kebutuhan pekerjaan yang jelas, memiliki standar kompetensi, dan dapat diakses oleh pencari kerja dengan latar belakang berbeda.
Namun, pembagian tanggung jawab bukan berarti pencari kerja dapat mengabaikan persiapan diri. Anak muda tetap perlu aktif mempelajari keterampilan yang relevan dan memahami tuntutan bidang yang ingin dimasuki.
Hal yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa semua hambatan mendapatkan pekerjaan semata-mata disebabkan oleh kurangnya usaha individu.
Perusahaan Perlu Membuka Lebih Banyak Jalan bagi Pekerja Pemula
Perusahaan dapat berkontribusi dengan memperluas jalur rekrutmen bagi kandidat yang belum memiliki pengalaman profesional.
Salah satu caranya adalah menyediakan program magang dengan tujuan pembelajaran, pendamping, tugas yang jelas, dan evaluasi terukur.
Magang berkualitas tidak semestinya hanya menjadi cara memperoleh tenaga tambahan. Peserta perlu mendapatkan pengalaman yang relevan, memahami standar kerja, dan menerima umpan balik atas hasil tugasnya.
Dengan demikian, kegiatan magang benar-benar membantu mereka membangun kompetensi yang dapat digunakan saat melamar pekerjaan.
Selain magang, perusahaan dapat mengembangkan pelatihan di tempat kerja. Kandidat yang memenuhi kemampuan dasar dapat direkrut untuk posisi pemula, kemudian dibimbing secara bertahap sesuai tanggung jawabnya.
Model ini membutuhkan waktu dan sumber daya, tetapi dapat membantu perusahaan membentuk tenaga kerja sesuai kebutuhan organisasi.
Persyaratan rekrutmen juga perlu dibedakan antara kemampuan yang wajib dimiliki sejak awal dan keterampilan yang masih dapat dipelajari.
Jika pengalaman tertentu memang diperlukan, perusahaan sebaiknya menjelaskan alasannya. Sebaliknya, persyaratan yang tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan patut dievaluasi agar tidak mempersempit jumlah kandidat tanpa alasan yang kuat.
Di sisi lain, perusahaan tidak harus mengabaikan standar hanya demi memperbanyak kesempatan bagi pemula.
Untuk pekerjaan yang membutuhkan kompetensi khusus atau berkaitan dengan keselamatan, persyaratan yang ketat bisa dibenarkan.
Yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian antara tuntutan pengalaman dan tanggung jawab pekerjaan yang ditawarkan.
Pemerintah dan lembaga pendidikan dapat mendukung upaya tersebut melalui kemitraan, informasi pasar kerja, serta pelatihan berbasis kebutuhan industri.
Keberhasilan program juga perlu dinilai dari hasilnya, termasuk apakah peserta memperoleh pekerjaan yang sesuai dan memiliki kesempatan berkembang setelah pelatihan selesai.
Baca Juga : Selalu Terhubung lewat Chat, Mengapa Komunikasi Justru Bisa Terasa Jauh?
Memperluas Peluang Kerja Berarti Membangun Akses, Bukan Sekadar Persaingan
Anak muda tetap memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan diri. Mereka dapat membangun portofolio, memperkuat kemampuan komunikasi, mengikuti pelatihan yang relevan, dan mencari pengalaman melalui proyek atau magang.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu menunjukkan kemampuan, meskipun tidak menjamin seseorang langsung memperoleh pekerjaan.
Sementara itu, perusahaan perlu memastikan bahwa persyaratan rekrutmen sebanding dengan tanggung jawab posisi.
Lembaga pendidikan perlu memperkuat hubungan dengan dunia kerja, sedangkan pemerintah perlu mendorong pelatihan yang relevan dan memperhatikan ketersediaan pekerjaan yang layak.
Pembagian tanggung jawab ini penting karena persoalan pengangguran tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan persaingan antarpencari kerja.
Ketika semua orang diminta memiliki pengalaman, tetapi jalur untuk mendapatkannya terbatas, persaingan justru berisiko menjadi semakin berat bagi mereka yang baru memulai karier.
Pada akhirnya, pengalaman memang penting, tetapi tidak seharusnya menjadi pintu yang selalu tertutup bagi pemula.
Persyaratan harus tetap mempertimbangkan kebutuhan pekerjaan, sedangkan kesempatan belajar perlu tersedia bagi kandidat yang memiliki kemampuan dasar dan potensi untuk berkembang.
Dunia kerja yang sehat bukan hanya memilih orang yang sudah berpengalaman, melainkan juga menyediakan jalur yang masuk akal bagi calon tenaga kerja untuk belajar, berkembang, dan membuktikan kemampuannya.
Memperluas peluang kerja berarti membangun hubungan yang lebih seimbang antara kesiapan individu, kebutuhan perusahaan, dukungan pendidikan, dan kebijakan pemerintah.









Leave a Comment