Tips Mengatasi Doomscrolling agar Waktu Bermain Media Sosial Lebih Terkontrol

Bima Yoga

October 24, 2026

4
Min Read
Tips Mengatasi Doomscrolling agar Waktu Bermain Media Sosial Lebih Terkontrol
Membuka ponsel hanya untuk mengecek satu notifikasi, lalu tanpa sadar sudah satu jam terus menggulir berita buruk demi berita buruk.

sekitarmalangraya – Membuka ponsel hanya untuk mengecek satu notifikasi, lalu tanpa sadar sudah satu jam terus menggulir berita buruk demi berita buruk.

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah doomscrolling, dan ternyata bukan sekadar kebiasaan yang membuang waktu, melainkan juga berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang.

Apa Itu Doomscrolling dan Mengapa Berbahaya

Doomscrolling merujuk pada kebiasaan terus-menerus menggulir konten negatif, mengancam, atau menyedihkan secara daring, yang disertai kesulitan untuk berhenti meski konten tersebut membuat tidak nyaman.

Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology pada 2026 menganalisis 44 studi terkait doomscrolling dan kesehatan mental.

Hasilnya menunjukkan, doomscrolling berkaitan dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi, gejala depresi, serta tekanan psikologis secara umum.

Di sisi lain, kebiasaan ini juga berkaitan dengan rendahnya kesejahteraan psikologis dan kepuasan hidup seseorang. Dari kelima aspek yang diteliti, kaitan paling kuat ditemukan pada tekanan psikologis.

Para peneliti menekankan bahwa temuan ini bersifat korelasional, bukan hubungan sebab akibat yang pasti. Artinya, doomscrolling mungkin memicu tekanan psikologis, namun bisa juga terjadi sebaliknya.

Orang yang sudah mengalami tekanan psikologis cenderung lebih sering melakukan doomscrolling sebagai bentuk pelarian atau respons terhadap kecemasan yang sudah ada.

Kenali Dulu Pemicu Kebiasaan Ini

Sebelum mencoba mengatasinya, penting untuk memahami bahwa doomscrolling sering kali muncul dari rasa ingin tahu yang wajar terhadap informasi terkini, terutama saat ada peristiwa besar atau krisis yang sedang berlangsung.

Masalahnya muncul ketika rasa ingin tahu tersebut berubah menjadi kebiasaan kompulsif yang sulit dihentikan, meski informasi yang didapat sudah berulang dan tidak lagi memberikan manfaat baru.

Mengenali waktu dan situasi tertentu yang biasanya memicu kebiasaan ini, misalnya menjelang tidur atau saat merasa bosan, bisa menjadi langkah awal untuk mulai mengontrolnya.

Dengan menyadari pola tersebut, seseorang dapat lebih siap mengantisipasi dorongan untuk terus menggulir media sosial tanpa tujuan jelas.

Batasi Waktu dan Tetapkan Jadwal Khusus

Salah satu cara paling praktis untuk mengurangi doomscrolling adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial secara spesifik, misalnya hanya mengecek berita pada jam-jam tertentu dalam sehari, bukan sepanjang waktu tanpa batas.

Banyak aplikasi ponsel kini menyediakan fitur pengingat waktu layar yang bisa dimanfaatkan untuk membantu disiplin menerapkan batasan ini.

Menetapkan area atau waktu bebas gawai, seperti tidak membawa ponsel ke kamar tidur atau meletakkannya di ruangan lain saat makan bersama keluarga, juga dapat membantu mengurangi godaan untuk membuka media sosial secara otomatis tanpa disadari.

Baca Juga: Terlalu Sibuk Menjadi Produktif, Apakah Kita Lupa Menikmati Hidup?

Ganti dengan Aktivitas yang Lebih Menenangkan

Alih-alih langsung melarang diri sendiri membuka media sosial sepenuhnya, yang sering kali sulit dipertahankan dalam jangka panjang, mengganti kebiasaan tersebut dengan aktivitas lain yang lebih menenangkan bisa menjadi pendekatan yang lebih realistis.

Membaca buku, berjalan kaki sebentar, atau sekadar mengobrol langsung dengan orang terdekat dapat menjadi alternatif pengganti yang membantu mengalihkan perhatian secara lebih sehat.

Sebuah tinjauan ilmiah bahkan menyebutkan konsep konsumsi berita yang lebih mindful dan harmonis, yaitu pendekatan yang lebih sadar, terarah, dan terbatas terhadap berita negatif, dibandingkan menghindarinya sepenuhnya.

Pendekatan ini menekankan pentingnya kesadaran terhadap tujuan, respons emosional, serta kapan sebaiknya berhenti mengonsumsi informasi.

Perhatikan Kondisi Emosi Diri Sendiri

Memperhatikan bagaimana perasaan setelah menggulir berita selama beberapa waktu juga menjadi langkah penting dalam mengontrol kebiasaan ini.

Jika muncul rasa cemas, sedih, atau lelah secara emosional setelah membaca berita bertubi-tubi, itu bisa menjadi sinyal bagi diri sendiri untuk segera berhenti dan mengalihkan perhatian ke aktivitas lain.

Memberi jeda sejenak sebelum membuka media sosial, misalnya dengan bertanya pada diri sendiri apa tujuan membuka aplikasi tersebut, juga dapat membantu mengurangi kebiasaan membuka media sosial secara otomatis tanpa niat yang jelas sejak awal.

Cari Dukungan Jika Dibutuhkan

Jika kebiasaan doomscrolling sudah terasa sangat sulit dikendalikan dan mulai mengganggu keseharian, mencari dukungan dari orang terdekat atau tenaga profesional di bidang kesehatan mental bisa menjadi langkah yang tepat.

Mengingat penelitian menunjukkan kaitan antara doomscrolling dengan kecemasan dan gejala depresi, penting untuk tidak menyepelekan dampaknya terhadap kondisi psikologis seseorang dalam jangka panjang.

Mengontrol waktu bermain media sosial bukan berarti harus sepenuhnya menjauh dari informasi, melainkan belajar menyeimbangkan antara tetap mendapatkan informasi penting dan menjaga kesehatan mental tetap stabil.

Baca Juga: Mengenal Sistem Pemerintahan Demokrasi, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Dengan kesadaran dan kebiasaan yang lebih terarah, dorongan untuk terus menggulir berita buruk secara berlebihan dapat dikendalikan secara bertahap, tanpa harus kehilangan akses terhadap informasi yang tetap dibutuhkan sehari-hari.

Leave a Comment

Related Post