Wali Kota Malang Siapkan Retreat untuk Seluruh Kepala Sekolah

Bima Yoga

October 5, 2026

4
Min Read
Wali Kota Malang Siapkan Retreat untuk Seluruh Kepala Sekolah
Pemkot Malang tengah menyiapkan agenda khusus untuk mengevaluasi kinerja seluruh kepala sekolah jenjang SD dan SMP di wilayahnya. Evaluasi tersebut rencananya dikemas dalam kegiatan retreat yang ditargetkan berlangsung pada akhir tahun ini. (Gambar hanya Ilustrasi).

sekitarmalangraya – Setelah mencuatnya kasus dugaan kekerasan di salah satu sekolah menengah pertama, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengambil langkah evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungannya.

Pemkot Malang tengah menyiapkan agenda khusus untuk mengevaluasi kinerja seluruh kepala sekolah jenjang SD dan SMP di wilayahnya. Evaluasi tersebut rencananya dikemas dalam kegiatan retreat yang ditargetkan berlangsung pada akhir tahun ini.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, retreat tersebut menjadi momentum bagi seluruh kepala sekolah untuk melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap berbagai kejadian yang terjadi di lingkungan pendidikan Kota Malang belakangan ini.

“Sudah kita susun. Nanti kita tinggal tentukan waktunya. Kita ingin ada evaluasi, introspeksi kejadian-kejadian kemarin, agar menjadi pembelajaran dan tentunya nanti yang terbaik ke depan,” ujar Wahyu, Senin (5/10).

Buntut dari Kasus Dugaan Kekerasan di SMPN 18

Rencana retreat ini muncul tidak lama setelah mencuatnya dugaan kasus kekerasan yang dilakukan eks Kepala Sekolah SMP Negeri 18 Kota Malang berinisial MAH terhadap sejumlah siswanya.

Setidaknya delapan pelajar SMP Negeri 18 telah melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke Kepolisian Resor Kota Malang Kota.

Wahyu menegaskan, Pemkot Malang tidak memberikan pendampingan hukum kepada eks kepala sekolah tersebut, karena perkara yang muncul dinilai sebagai persoalan serius yang seharusnya tidak boleh terjadi di lingkungan pendidikan.

“Tidak ada pendampingan (hukum), kalau dari pemkot tidak ada,” kata Wahyu.

Pemkot Malang memastikan telah mencopot MAH dari jabatannya sebagai kepala sekolah, sehingga statusnya kini hanya sebagai guru biasa tanpa diberikan tugas mengampu mata pelajaran apa pun.

Menurut Wahyu, kegiatan retreat akan diikuti seluruh kepala sekolah SD dan SMP di Kota Malang.

Namun, pelaksanaannya masih harus dipersiapkan secara matang, mulai dari anggaran, lokasi, hingga penentuan waktu pelaksanaan.

Baca Juga: Kompetensi Guru di Era Digital, Apakah Kemampuan Mengajar Saja Sudah Cukup?

“Belum, nanti kita lihat, kita atur, karena harus kita siapkan anggaran, tempat, dan waktunya. Jangan sampai juga mengganggu pembelajaran yang ada di sekolah-sekolah,” ungkapnya.

Ia menegaskan, retreat tersebut hanya diperuntukkan bagi kepala sekolah di wilayah Kota Malang, bukan kepala sekolah se-Malang Raya.

Wahyu menyebut, evaluasi dalam retreat ini tidak hanya menyangkut persoalan administrasi sekolah, melainkan juga penekanan kembali mengenai cara menangani siswa serta tanggung jawab kepala sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan kondusif.

“Ya, kita evaluasi, introspeksi, dan diberi penekanan kembali. Biar kita tidak henti-hentinya terkait dengan bagaimana menangani siswa dan lain-lain,” katanya.

Wahyu berharap forum tersebut dapat menjadi pembelajaran bersama bagi para kepala sekolah agar lebih siap menghadapi berbagai persoalan di lingkungan sekolah, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat.

“Banyak hal yang kita lakukan agar mereka nanti menjadi kepala sekolah yang baik dan bisa melayani masyarakat,” tegasnya.

Meski waktu pelaksanaan belum ditetapkan secara pasti, Wahyu memastikan agenda tersebut ditargetkan dapat terealisasi pada tahun ini juga.

“Insya Allah tahun ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Malang Dandung Djulharjanto sebelumnya juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan menyiapkan agenda kunjungan ke sekolah sebagai bentuk evaluasi dan pencegahan.

Selain itu pemerintah daerah juga mempersiapkan pembekalan kepada para guru untuk meningkatkan pemahaman tentang peran mereka, bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga pendamping bagi peserta didik.

Rencana retreat bagi kepala sekolah maupun pembekalan bagi guru ini diharapkan dapat menjadi langkah konkret Pemkot Malang dalam mencegah terulangnya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, sekaligus memperkuat ekosistem sekolah yang lebih humanis dan aman bagi seluruh peserta didik.

Selama ini, Pemkot Malang mengaku telah berkali-kali mengingatkan kepala sekolah, guru, dan organisasi profesi guru untuk membangun ekosistem pendidikan yang humanis dan bebas dari kekerasan.

Baca Juga: Pembelajaran Mendalam di Sekolah, Apa yang Berubah dari Cara Belajar Siswa?

Namun, kasus di SMP Negeri 18 menunjukkan bahwa imbauan semacam itu saja belum cukup, sehingga diperlukan forum evaluasi lebih terstruktur seperti retreat ini.

Langkah ini juga diharapkan dapat memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan di Kota Malang, yang sempat tercoreng akibat insiden kekerasan tersebut, sekaligus memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang di sekolah-sekolah lain di wilayah Kota Malang.

Leave a Comment

Related Post