Mengapa Kita Sering Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan?

Bima Yoga

September 28, 2026

3
Min Read
Mengapa Kita Sering Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan?
Paket baru di depan pintu, keranjang belanja daring yang penuh, atau barang diskon yang akhirnya dibeli padahal tidak direncanakan.

sekitarmalangraya – Paket baru di depan pintu, keranjang belanja daring yang penuh, atau barang diskon yang akhirnya dibeli padahal tidak direncanakan.

Hampir semua orang pernah mengalaminya. Pertanyaannya, mengapa kita begitu sering membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Sebagian jawabannya ternyata terletak pada cara kerja otak manusia.

Ann-Christine Duhaime, ahli bedah saraf dari Harvard, membahas hal ini dalam bukunya, Minding the Climate: How Neuroscience Can Help Solve Our Environmental Crisis.

Ia dikutip majalah TIME dalam ulasan tentang alasan orang terus berbelanja.

Menurut Duhaime, secara umum manusia cenderung terdorong untuk memperoleh lebih banyak barang sambil berusaha bekerja lebih sedikit untuk mendapatkannya.

Baca Juga: Sungai Brantas Malang Berwarna Ungu Gelap, Perum Jasa Tirta Lakukan Pengecekan

Otak dan Sensasi Hadiah Tak Terduga

Duhaime menjelaskan bahwa otak manusia memiliki sekitar 86 miliar neuron yang terus membentuk sirkuit untuk memperkuat perilaku yang memberi imbalan.

Setiap kali itu terjadi, otak melepaskan dopamin sehingga kita belajar mengulang tindakan yang menghasilkan imbalan tersebut.

Otak, kata Duhaime, paling menyukai hadiah yang tidak terduga. Ia menyebutnya sebagai imbalan kecil yang datang secara acak.

Nenek moyang manusia kemungkinan belajar dari pengalaman semacam ini, misalnya ketika menemukan semak buah beri saat menjelajah hutan baru, lalu mengulang perilaku yang membawa mereka ke sana.

Dalam belanja, mekanismenya serupa. Seseorang mungkin tidak berniat membeli cat air, tetapi setelah membaca sesuatu yang mengingatkannya pada hobi melukis, ia membelinya.

Bila harganya lebih murah dari perkiraan dan barangnya tiba lebih cepat serta lebih bagus dari dugaan, otak akan terdorong mengulangi perilaku tersebut. Namun, sensasi dari hal yang sama cenderung menurun bila diulang terus-menerus.

Duhaime juga menegaskan bahwa otak manusia tidak sepenuhnya terprogram untuk terus mengonsumsi. Faktor genetik dan pengalaman hidup ikut memengaruhi.

Seseorang yang sejak kecil belajar bahwa boros bisa berujung kemiskinan, misalnya, dapat tumbuh menjadi pribadi yang hemat.

Menurut Duhaime, cara mengubah kebiasaan konsumsi berlebihan bukan dengan berhenti membeli sama sekali, melainkan mengganti sumber hadiahnya.

Salah satu contohnya adalah membeli barang bekas, yang tetap memberi rasa baru dan tak terduga tanpa menuntut produksi barang baru.

Dukungan sosial juga berperan. Duhaime menyebut komunitas yang saling menguatkan, seperti kelompok Buy Nothing yang menjadi wadah bertukar barang bekas, dapat membantu orang mengubah perilaku.

Ia mencontohkan program Eco-Team di Belanda, tempat tetangga membentuk tim untuk mengubah kebiasaan, seperti mencatat berat sampah atau pemakaian air rumah tangga.

“Kalau tidak memberi hadiah, kita tidak akan melakukannya,” ujar Duhaime.

Pemahaman ini penting karena konsumsi berlebihan memiliki dampak lingkungan. Produksi dan penggunaan barang serta jasa rumah tangga menyumbang sekitar 60 persen emisi gas rumah kaca. Bagi konsumen, mengenali pola dorongan belanja dapat menjadi langkah awal untuk lebih sadar sebelum menekan tombol beli.

Baca Juga: Proposal Damai Iran Ditolak Trump, Konflik Kian Memanas

Leave a Comment

Related Post