Diskon dan Promo Terus Bermunculan, Apakah Kita Benar-Benar Membeli Sesuai Kebutuhan?

Mazaya Farandy

October 30, 2026

7
Min Read
Diskon dan promo sering kali membuat kita merasa sedang mendapatkan kesempatan langka untuk berhemat.

sekitarmalangraya – Diskon dan promo sering kali membuat kita merasa sedang mendapatkan kesempatan langka untuk berhemat.

Potongan harga, gratis ongkos kirim, cashback, hingga penawaran berbatas waktu hadir di toko fisik maupun platform belanja daring.

Namun, sebelum menekan tombol pembayaran, ada pertanyaan yang perlu diajukan: apakah barang yang dibeli memang dibutuhkan, atau kita hanya takut kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah?

Dalam kehidupan sehari-hari, berbelanja bukan sekadar aktivitas memenuhi kebutuhan. Kegiatan ini juga dapat menjadi hiburan, cara memberikan penghargaan kepada diri sendiri, atau sarana mengikuti tren.

Masalahnya, ketika penawaran menarik datang berulang kali, batas antara kebutuhan dan keinginan bisa menjadi kabur.

Menurut saya, konsumen tidak perlu memusuhi promosi, tetapi perlu lebih kritis dalam menilainya. Harga murah baru bisa disebut penghematan jika pembelian tersebut memang memberikan manfaat dan sesuai dengan kondisi keuangan.

Diskon Membuat Harga Murah Terasa Seperti Kesempatan

Daya tarik diskon dan promo terletak pada kesan bahwa konsumen memperoleh keuntungan langsung. Barang yang sebelumnya terasa mahal mendadak terlihat lebih terjangkau setelah harganya dipotong.

Label persentase diskon yang besar juga dapat membuat seseorang lebih memperhatikan besarnya potongan daripada harga akhir yang harus dibayar.

Misalnya, seseorang menemukan sepatu dengan potongan harga yang cukup besar. Ia mungkin merasa sayang melewatkan penawaran tersebut, meskipun sepatu yang dimilikinya masih layak digunakan.

Dalam situasi seperti ini, keputusan membeli tidak sepenuhnya didorong oleh kebutuhan, melainkan oleh persepsi bahwa kesempatan menguntungkan sedang tersedia.

Penelitian Agung Utama dan sejumlah peneliti lain yang diterbitkan dalam jurnal Cogent Business & Management pada Agustus 2025 membahas hubungan diskon harga, emosi positif, motivasi hedonis, dan pembelian impulsif pada konsumen muda di Indonesia.

Penelitian tersebut melibatkan 179 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa motivasi berbelanja untuk memperoleh kesenangan serta emosi positif memiliki pengaruh terhadap pembelian impulsif, sedangkan pengaruh langsung diskon harga tidak signifikan dalam model penelitian tersebut.

Temuan ini mengingatkan kita bahwa keputusan belanja tidak hanya berkaitan dengan angka. Perasaan senang, antusias, dan puas saat menemukan penawaran juga dapat memengaruhi keputusan.

Namun, karena penelitian tersebut menggunakan sampel dan konteks tertentu, hasilnya tidak dapat dianggap mewakili seluruh konsumen Indonesia.

Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada ketertarikan terhadap harga murah. Konsumen wajar mencari penawaran yang menguntungkan.

Namun, kesempatan mendapatkan potongan harga tidak seharusnya otomatis menjadi alasan untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.

Baca Juga : AI Companion dan Kesepian, Apakah Teman Virtual Bisa Menggantikan Hubungan Manusia?

Ketika Promo Mendorong Pembelian di Luar Rencana

Masalah muncul ketika diskon dan promo mengubah barang yang sebelumnya tidak masuk daftar belanja menjadi sesuatu yang terasa harus segera dimiliki.

Penawaran berbatas waktu, hitung mundur, atau pesan bahwa stok hampir habis dapat menimbulkan kekhawatiran akan kehilangan kesempatan.

Akibatnya, konsumen berisiko mengambil keputusan sebelum mempertimbangkan manfaat barang dan kemampuan finansialnya.

Survei Populix yang diberitakan Hypeabis pada April 2023 memberikan gambaran mengenai perilaku tersebut. Sebanyak 91 persen responden mengaku pernah berbelanja ketika kampanye promosi daring berlangsung.

Dalam laporan yang sama, kekhawatiran membeli barang yang tidak dibutuhkan disebut oleh 50 persen responden yang tidak tertarik mengikuti kampanye promosi.

Data tersebut berasal dari 2023 sehingga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan secara pasti perilaku masyarakat pada 2026.

Meski demikian, hasil itu memberikan konteks bahwa ketertarikan terhadap promosi dapat berjalan beriringan dengan kekhawatiran mengenai pembelian yang tidak diperlukan.

Kita juga perlu mengakui bahwa pembelian spontan tidak selalu berarti keputusan buruk. Membeli kebutuhan rumah tangga dengan harga lebih rendah, misalnya, dapat menjadi pilihan rasional jika barang tersebut memang diperlukan dan anggarannya tersedia.

Persoalannya bukan terletak pada spontanitas semata, melainkan pada alasan membeli dan konsekuensinya terhadap kebutuhan utama.

Karena itu, sebelum membeli, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah barang ini sudah direncanakan sebelumnya?

Apakah saya tetap ingin membelinya jika tidak ada potongan harga? Apakah pembelian ini akan mengganggu anggaran untuk kebutuhan lain?

Pertanyaan tersebut dapat membantu konsumen menilai keputusan secara lebih objektif. Promo seharusnya menjadi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dengan biaya lebih rendah, bukan tekanan untuk segera mengeluarkan uang.

Harga Lebih Rendah Belum Tentu Berarti Lebih Hemat

Ada anggapan bahwa setiap pembelian dengan harga diskon otomatis membuat konsumen lebih hemat. Padahal, penghematan tidak cukup dinilai dari selisih harga sebelum dan sesudah potongan.

Kita juga perlu mempertimbangkan apakah barang tersebut akan digunakan, apakah kualitasnya sesuai, dan berapa total pengeluaran yang harus dibayar.

Sebagai contoh, membeli tiga barang dengan harga promosi belum tentu lebih hemat daripada membeli satu barang sesuai kebutuhan.

Jika dua barang lainnya hanya tersimpan tanpa digunakan, uang yang dikeluarkan tetap menjadi biaya yang sebenarnya bisa dihindari.

Potongan harga tidak menghapus pengeluaran; konsumen tetap membayar sejumlah uang untuk memperoleh barang tersebut.

Hal serupa berlaku pada gratis ongkos kirim, cashback, dan paket bundling. Manfaatnya bergantung pada syarat penawaran serta kebutuhan pembeli.

Jika seseorang harus menambah barang ke keranjang agar memperoleh gratis ongkir, total belanjanya justru bisa meningkat.

Cashback juga tidak selalu setara dengan uang tunai yang bebas digunakan karena mungkin memiliki batas pemakaian atau ketentuan tertentu.

Dalam konteks ekonomi yang lebih luas, Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 sebesar 118,1, yang berada di zona optimistis.

Namun, angka tersebut menggambarkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi, bukan bukti bahwa masyarakat semakin boros atau semakin hemat.

Data itu perlu ditempatkan sesuai fungsinya dan tidak dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan mengenai perilaku belanja yang tidak diukur secara langsung.

Menurut saya, konsumen sebaiknya menilai penawaran berdasarkan harga akhir, kegunaan, kualitas, dan kemampuan membayar.

Barang yang murah tetapi tidak diperlukan tetap merupakan pengeluaran yang tidak wajib dilakukan. Sebaliknya, membeli barang yang memang dibutuhkan dengan harga lebih rendah dapat menjadi keputusan yang bijaksana.

Dengan demikian, ukuran penghematan seharusnya bukan seberapa besar potongan yang diperoleh, melainkan seberapa tepat uang digunakan.

Diskon baru memberikan manfaat nyata ketika pembelian tetap masuk akal meskipun penawaran tersebut tidak disertai promosi yang mencolok.

Mengapa Konsumen Perlu Menetapkan Batas Belanja

Menghadapi diskon dan promo bukan berarti kita harus menghindari semua penawaran. Yang lebih penting adalah memiliki batas sebelum mulai berbelanja.

Daftar kebutuhan dapat menjadi langkah awal untuk mengendalikan keputusan. Dengan mencatat barang yang benar-benar diperlukan, konsumen mempunyai acuan ketika berhadapan dengan berbagai penawaran yang muncul.

Anggaran juga perlu ditentukan sejak awal. Pisahkan dana untuk kebutuhan pokok, tagihan, tabungan, dan pengeluaran lain sebelum mengalokasikan uang untuk belanja tambahan.

Jika suatu promosi membuat total belanja melewati batas yang sudah ditetapkan, melewatkannya merupakan keputusan yang masuk akal.

Kebiasaan membandingkan harga juga penting. Jangan hanya melihat persentase potongan yang ditampilkan penjual. Periksa harga akhir, biaya pengiriman, ketentuan voucher, serta harga barang serupa di tempat lain. Jika barang bukan kebutuhan mendesak, menundanya selama satu atau dua hari dapat memberi waktu untuk menilai apakah keinginan membeli masih bertahan.

Namun, mengendalikan belanja tidak berarti kita harus selalu menolak keinginan pribadi. Membeli sesuatu untuk hiburan atau kepuasan diri tetap dapat dilakukan selama pengeluarannya sesuai kemampuan.

Hal yang perlu dihindari adalah menjadikan setiap promo sebagai pembenaran untuk membeli tanpa mempertimbangkan prioritas.

Konsumen juga perlu memahami bahwa tidak membeli barang bukan berarti kehilangan keuntungan. Uang yang tidak dikeluarkan dapat digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting atau disimpan sebagai cadangan.

Pada akhirnya, kemampuan mengelola belanja bukan ditentukan oleh seberapa sering kita berhasil memperoleh harga termurah, melainkan oleh kemampuan menggunakan uang sesuai prioritas.

Baca Juga : Hoaks Kesehatan di Media Sosial, Mengapa Informasi Salah Mudah Dipercaya?

Jangan Biarkan Promo Mengendalikan Keputusan Belanja

Pada akhirnya, diskon dan promo merupakan penawaran yang dapat memberi keuntungan jika digunakan dengan tepat.

Penawaran menarik tidak selalu merugikan, sebagaimana belanja tanpa diskon tidak otomatis lebih bijaksana. Penentunya adalah alasan membeli, kegunaan barang, dan dampaknya terhadap kondisi keuangan.

Kita tidak harus merasa bersalah ketika membeli sesuatu yang menyenangkan selama pengeluaran tetap terkendali.

Namun, kita juga tidak perlu menganggap setiap penawaran sebagai kesempatan yang wajib dimanfaatkan. Ada kalanya keputusan paling hemat justru membiarkan barang tetap berada di keranjang tanpa menyelesaikan pembayaran.

Sikap kritis terhadap promosi merupakan bagian dari kebiasaan konsumsi yang sehat. Dengan membuat daftar belanja, menetapkan anggaran, membandingkan harga, dan memberi jeda sebelum membeli, konsumen dapat menikmati manfaat penawaran tanpa kehilangan kendali.

Menurut saya, konsumen perlu mengubah cara memandang diskon: bukan sebagai alasan untuk membeli, melainkan sebagai kesempatan untuk menghemat biaya atas barang yang memang diperlukan.

Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan keuangan sehari-hari.

Jadi, pertanyaan terpenting bukan seberapa besar potongan yang berhasil kita dapatkan, melainkan apakah pembelian itu benar-benar memberikan manfaat.

Sebab, tujuan berbelanja seharusnya bukan mengumpulkan barang murah, tetapi memenuhi kebutuhan dan menjaga keseimbangan keuangan.

Leave a Comment

Related Post