sekitarmalangraya – AI makin pintar dan kemampuannya mengerjakan berbagai tugas semakin luas, mulai dari membuat teks, menganalisis informasi, menghasilkan gambar hingga membantu pekerjaan teknis.
Perkembangan ini wajar memunculkan kekhawatiran: jika mesin dapat melakukan semakin banyak hal, apakah manusia pada akhirnya akan kehilangan pekerjaan?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar bahan diskusi teknologi. Bagi pekerja, terutama mereka yang baru memasuki dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan menyentuh persoalan yang sangat nyata.
Pekerjaan bukan hanya sumber pendapatan, tetapi juga tempat seseorang memperoleh pengalaman, membangun keterampilan, dan menemukan arah karier.
Survei Pew Research Center terhadap 42.151 orang di 36 negara pada Februari hingga Mei 2026 menunjukkan bahwa di 34 dari 37 negara yang dianalisis, masyarakat cenderung memperkirakan AI akan menghasilkan lebih sedikit pekerjaan dibandingkan lebih banyak pekerjaan. Kekhawatiran juga terlihat pada kelompok usia muda di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Namun, apakah ketakutan tersebut harus membuat manusia memandang AI sebagai ancaman yang harus dilawan?
Ketakutan terhadap AI Memang Masuk Akal, tetapi Tidak Sesederhana Itu
Kekhawatiran terhadap AI sebenarnya cukup masuk akal. Teknologi yang mampu mengerjakan tugas dalam waktu singkat berpotensi mengubah cara perusahaan menggunakan tenaga kerja.
Jika sebelumnya sebuah pekerjaan membutuhkan beberapa tahapan yang dilakukan manusia, sebagian tahapan tersebut kini dapat dibantu atau dikerjakan dengan teknologi.
Perusahaan kemudian dapat mengubah pembagian tugas, kebutuhan tenaga kerja, bahkan kualifikasi yang dicari ketika merekrut pekerja baru.
Survei Pew memperlihatkan bahwa kekhawatiran tersebut sudah menjadi pandangan yang cukup luas. Secara median, 55% orang dewasa di 18 negara berpendapatan tinggi memperkirakan AI akan menyebabkan lebih sedikit pekerjaan dalam 20 tahun mendatang. Di 18 negara berpendapatan menengah, angkanya mencapai 36%.
Artinya, rasa takut tersebut bukan sekadar ketakutan individual. Ada perubahan teknologi yang memang sedang dipersepsikan masyarakat sebagai sesuatu yang dapat memengaruhi pasar kerja.
Tetapi menurut saya, masalahnya menjadi terlalu sederhana jika kita berhenti pada pertanyaan apakah AI akan mengambil pekerjaan manusia.
Baca Juga : Ketika Algoritma Lebih Tahu Selera Kita, Apakah Kita Masih Benar-Benar Memilih?
AI Tidak Selalu Menghilangkan Pekerjaan, tetapi Mengubah Tugas
Salah satu hal yang sering terlupakan dalam perdebatan tentang AI adalah perbedaan antara pekerjaan dan tugas.
Satu pekerjaan biasanya terdiri dari banyak tugas. Sebagian tugas mungkin dapat dilakukan AI, sementara bagian lainnya tetap membutuhkan manusia. Karena itu, ketika AI mengambil alih satu tugas, belum tentu seluruh pekerjaan otomatis hilang.
International Labour Organization (ILO) dalam analisisnya mengenai dampak AI generatif terhadap pekerjaan memperkirakan sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan tertentu terhadap teknologi tersebut.
Namun, ILO menekankan bahwa dampak yang paling mungkin terjadi bukanlah hilangnya seluruh pekerjaan secara langsung, melainkan perubahan dan transformasi terhadap tugas-tugas di dalam pekerjaan tersebut.
Perubahan itu sebenarnya sudah mudah ditemukan dalam pekerjaan sehari-hari. Seorang pekerja administrasi dapat menggunakan AI untuk merangkum dokumen.
Penulis dapat memanfaatkannya untuk mencari ide awal. Analis dapat menggunakannya untuk membantu mengolah informasi.
Namun, penggunaan teknologi tidak otomatis menghapus kebutuhan untuk memeriksa hasil, memahami konteks, berkomunikasi dengan orang lain, atau mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.
Karena itu, pertanyaannya seharusnya tidak berhenti pada “apakah AI menggantikan manusia?”, tetapi bergeser menjadi “bagian pekerjaan mana yang berubah ketika AI hadir?”
Perubahan cara kerja inilah yang menurut saya justru perlu lebih diperhatikan. Sebab, ketika sebagian tugas menjadi lebih mudah dilakukan mesin, nilai seorang pekerja juga dapat bergeser dari sekadar mampu menyelesaikan tugas menjadi mampu menggunakan teknologi, menilai hasilnya, dan menentukan apa yang harus dilakukan setelahnya.
Pekerja Muda Menghadapi Tantangan yang Berbeda
Persoalan yang menurut saya lebih mengkhawatirkan justru berada pada pekerjaan entry-level. Pekerjaan awal dalam karier sering kali bukan pekerjaan yang paling kompleks.
Justru dari pekerjaan sederhana itulah seseorang belajar membuat keputusan, berkomunikasi, memahami prosedur, menghadapi kesalahan, dan bekerja dalam tim.
World Economic Forum pada 2026 menyebut lebih dari sepertiga pekerja muda secara global berada dalam pekerjaan dengan paparan sedang hingga tinggi terhadap perubahan tugas yang didorong AI.
Laporan tersebut menyoroti bahwa perkembangan AI sangat terlihat pada pekerjaan entry-level dan dapat memengaruhi akses anak muda terhadap jalur awal karier. Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit.
Jika pekerjaan-pekerjaan sederhana semakin banyak dibantu teknologi, perusahaan mungkin membutuhkan lebih sedikit pekerja untuk mengerjakan tugas dasar.
Tetapi jika kesempatan tersebut berkurang terlalu cepat, dari mana pekerja muda memperoleh pengalaman sebelum dipercaya menangani pekerjaan yang lebih kompleks?
Menurut saya, inilah pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar menghitung berapa pekerjaan yang akan hilang.
Skill Lama Tidak Hilang, tetapi Cara Menggunakannya Berubah
Kalau AI semakin mampu menghasilkan teks, mengolah informasi, membuat gambar, bahkan membantu pekerjaan teknis, apakah kemampuan manusia menjadi semakin tidak penting? Menurut saya, justru sebaliknya.
Semakin mudah mesin menghasilkan sesuatu, semakin penting kemampuan manusia untuk menentukan apakah hasil tersebut memang layak digunakan.
Jawaban yang cepat belum tentu benar. Tulisan yang terlihat meyakinkan belum tentu sesuai fakta. Analisis yang tampak lengkap juga belum tentu memahami konteks persoalan.
Di sinilah kemampuan seperti berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, memahami masalah, melakukan verifikasi, dan mengambil keputusan tetap memiliki nilai.
Karena itu, belajar AI seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menulis prompt. Yang lebih penting adalah memahami kapan teknologi dapat membantu pekerjaan, kapan hasilnya harus diperiksa, dan kapan keputusan tidak boleh diserahkan begitu saja kepada mesin.
Menurut saya, inilah perubahan keterampilan yang sering luput ketika kita membicarakan masa depan pekerjaan.
Kita tidak hanya membutuhkan orang yang bisa menggunakan AI, tetapi juga orang yang cukup memahami pekerjaannya untuk mengetahui apakah keluaran AI masuk akal atau justru keliru.
ILO sendiri melihat dampak AI generatif bukan hanya dari sisi jumlah pekerjaan, tetapi juga perubahan tugas, produktivitas, organisasi kerja, dan kualitas pekerjaan.
Artinya, kemampuan manusia tidak serta-merta menjadi tidak relevan ketika teknologi semakin maju. Yang berubah adalah cara kemampuan tersebut digunakan bersama teknologi.
Mungkin pada akhirnya, pekerja yang paling dibutuhkan bukan mereka yang mampu melakukan semua hal tanpa bantuan teknologi, melainkan mereka yang tahu kapan harus menggunakan AI dan kapan harus mempercayai penilaiannya sendiri.
baca Juga : Inklusi Keuangan Meningkat, Tapi Apakah Kita Makin Pintar Mengelola Uang?
Masa Depan Pekerjaan Bukan Pertarungan Manusia Melawan AI
Menurut saya, ketakutan terhadap AI tidak perlu dihapus, tetapi perlu diarahkan menjadi pertanyaan yang lebih produktif.
Kita memang perlu mengakui bahwa ada pekerjaan dan tugas tertentu yang berpotensi berkurang.
ILO mencatat pekerjaan administratif termasuk kelompok yang memiliki tingkat paparan tertinggi terhadap AI generatif, sementara paparan juga terlihat pada sejumlah pekerjaan profesional dan teknis yang sangat terdigitalisasi.
Namun, perubahan tersebut tidak otomatis berarti manusia kehilangan seluruh perannya.
Tantangan terbesar justru bagaimana pendidikan, perusahaan, dan pekerja memastikan manusia tetap memiliki kesempatan untuk belajar ketika struktur pekerjaan berubah.
Pekerja perlu mendapat ruang untuk mengembangkan keterampilan baru, sementara perusahaan juga perlu memikirkan bagaimana jalur entry-level tetap tersedia sebagai tempat belajar.
Pada akhirnya, saya tidak melihat masa depan pekerjaan sebagai pertarungan antara manusia melawan AI.
Yang lebih masuk akal adalah membayangkan dunia kerja ketika manusia dan teknologi bekerja berdampingan, tetapi manusia tetap memiliki kemampuan untuk berpikir, memeriksa, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.
AI mungkin akan semakin pintar. Karena itu, manusia tidak harus berlomba menjadi lebih cepat daripada mesin dalam setiap pekerjaan. Manusia justru perlu memahami hal-hal yang membuat keberadaannya tetap bernilai.
Ketakutan terbesar terhadap AI seharusnya bukan hanya kehilangan pekerjaan hari ini. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kehilangan kesempatan untuk belajar menjadi pekerja yang dibutuhkan pada masa depan.









Leave a Comment